HousingEstate, Jakarta - Kota yang kian padat dan membuat harga lahannya terus naik pesat membuat sebagian besar kalangan memiliki pilihan terbatas untuk membeli hunian. Bagi kebanyakan pekerja perkotaan, untuk membeli rumah tapak pilihannya tinggal di pinggiran kota. Sementara untuk tetap di dalam kota harus mau tinggal apartemen.

Kita bisa belajar dari pengalaman Fany Natalia. Sebagai pasangan muda yang baru menikah, tahun 2013 dia dan suaminya memutuskan membeli unit apartemen dua kamar tidur di Bassura City (4 ha/7 menara) di Jalan Basuki Rahmat, Jakarta Timur, besutan PT Synthesis Development.

Saat itu Fanny membeli unit seharga Rp450 juta di tower Flamboyant lantai tujuh. Setelah diserah-terimakan tahun 2016, ia harus mengeluarkan tambahan biaya Rp45-50 juta untuk furnishing unitnya (di luar perangkat elektronik), mulai dari tempat tidur, lemari, nakas, meja kecil, sampai keperluan dapur. Unit apartemennya sendiri dibeli secara tunai bertahap (installment) selama tiga tahun dan langsung ditempati saat diserah-terimakan.

“Semuanya kembali pada pilihan. Saat ini menurut saya dan suami, ini pilihan paling logis karena kami berdua bekerja dan tinggal di sini aksesnya lebih mudah. Kami sudah berhitung, kalau tahun 2013 dibelikan rumah pilihannya hanya di Bekasi atau Depok dan kami bukan tipe yang tahan dengan kemacetan,” katanya kepada housing-estate.com di Jakarta, Senin (7/1/2018).

Fany mengakui, biaya yang harus dikeluarkan untuk tinggal di apartemen memang lebih besar dibandingkan tinggal di rumah tapak. Ia merinci, maintenance fee sebesar Rp390 ribu/bulan yang harus dibayarkan per enam bulan. Untuk air rata-rata Rp70-80 ribu/bulan, listrik (1.300 watt) rata-rata Rp270-300 ribu/bulan. Ia juga memiliki mobil dengan biaya parkir yang relatif rendah, hanya Rp200 ribu/bulan.

Penghematannya juga ada. Misalnya, keduanya tidak perlu lagi mengeluarkan biaya fasilitas kebugaran (gym), karena tersedia gratis sebagai fasilitas di apartemen selain kolam renang, trek joging, dan fasilitas lainnya untuk menunjang kesehatan. Transportasi juga lebih mudah dan murah dengan menggunakan Transjakarta atau transportasi online.

“Kalau kami hitung betul, menurut kami pilihan berhunian di sini lebih murah dan efektif. Tapi, ini akan berubah juga karena saya baru punya bayi. Menurut kami unit apartemen terlalu kecil untuk membesarkan anak. Jadi, sekarang kami mulai berpikir untuk membeli rumah (tapak),” tuturnya.