HousingEstate, Jakarta - Colliers International Indonesia (CII), perusahaan riset, konsultasi, dan manajemen properti merilis property market up date untuk kuartal 4 (Q4) 2018. Untuk sektor apartemen, sepanjang tahun 2018 lalu secara umum ada suplai baru yang masuk 17.524 unit, atau melesat 116 persen dibanding 2017.

Karena peningkatan suplai yang masuk ke pasar itu, tingkat hunian apartemen sepanjang turun 1,4 persen menjadi 69,8 persen dari total pasokan termasuk suplai baru 210.817 unit, karena masih lemahnya permintaan. Jadi, ada apartemen kosong sebanyak 60.949 unit. Kendati tingkat hunian menurun, di atas kertas harga apartemen mengalami kenaikan 2,5 persen menjadi rata-rata Rp33,8 juta/m2 pada tahun 2018.

Menurut Ferry Salanto, Senior Associate Director Research CII, secara factual tidak terjadi kenaikan melainkan justru negatif (menurun) karena inflasi mencapai 3,13 persen sepanjang tahun lalu.

“Kenaikan nilai properti jauh lebih rendah dibandingkan saving dan investasi di sektor keuangan lainnya. Ritel saving bond misalnya, menawarkan bunga 7,10 persen, deposito 6,5 persen, bond pemerintah tujuh persen, sementara apartemen rata-rata yield (pendapatan sewa)-nya hanya 5,5 persen. Bandingkan dengan tahun 2013, kenaikan harga properti mencapai 10,2 persen dibanding deposito waktu itu yang 6,39 persen,” katanya saat memaparkan Property Market Up Date Q4 itu di Jakarta, Rabu (9/1/2018).

Karena itu investor masih malas membeli (berinvestasi dalam) apartemen. Mereka lebih suka menyimpan dana di bank atau pasar uang. Terlihat dari simpanan masyarakat di bank dan pasar uang terus meningkat dalam lima tahun terakhir. “Sekarang orang lebih suka menyimpan uang di bank ketimbang diinvestasikan dalam properti,” ujarnya.

Sebagian besar konsumen apartemen masih investor. Saat ini yang mungkin mereka harapkan hanya pendapatan dari sewa (yield), sedangkan gain dari kenaikan harga sulit didapat.

Di sisi lain pembelian unit apartemen dengan pembiayaan bank (KPA) juga terus meningkat. Tahun 2013 porsi KPA hanya 16 persen dalam pembelian apartemen, tahun 2017 meningkat menjadi 29 persen, tahun 2018 naik lagi menjadi 37 persen.

“Selama apartemen dibeli oleh segmen investor, saat ini sulit mengharapkan kenaikan (harga) yang bagus. Makanya harus didorong cara-cara bayar yang memudahkan agar orang mau membeli apartemen (sehingga harga meningkat). Buktinya masyarakat masih mau membeli apartemen seperti terlihat dari porsi KPA yang terus meningkat,” jelas Ferry.

Ia menambahkan, investasi properti termasuk apartemen pasti akan mengalami kenaikan dibandingkan investasi lain yang tetap. Hanya, sekarang waktunya lebih panjang. “Kalau dulu 3-5 tahun sudah untung sekarang, harus 7-10 tahun. Tapi, pasti naik,” katanya.