HousingEstate, Jakarta - Bisnis properti sejak tahun 2014 hingga saat ini masih lesu sehingga properti dianggap tidak menarik lagi sebagai investasi. Berdasarkan riset Colliers International Indonesia (CII) misalnya, sepanjang tahun 2018 lalu pertumbuhan pasar apartemen hanya 2,5 persen. Dibandingkan dengan inflasi yang 3,13 persen, pertumbuhan itu justru negative.

Namun, menurut Ferry Salanto, Senior Associate Director Research CII, sektor properti di Indonesia tetap potensial sebagai investasi karena kelesuan pasar saat ini hanya sementara. “Pelemahan ini hanya siklus sementara, pada saatnya akan kembali meningkat. Apartemen di Jakarta misalnya, rasionya dengan jumlah penduduk nggak sampai dua persen. Artinya masih ada ruang yang sangat lebar untuk pasar apartemen berkembang. Gambarannya kota-kota seperti Singapura dan Hongkong yang jumlah apartemennya sangat banyak,” katanya kepada housingestate.id di Jakarta, Jumat (11/1/2018).

Sekarang investasi properti diakui Ferry kurang menarik, karena imbal hasilnya lebih rendah dibanding sektor keuangan seperti deposito, ritel saving bond, bond pemerintah, dan lain-lain. Namun, situasi ini hanya sementara karena properti pasti akan bertumbuh seiring peningkatan nilai asetnya. Ini juga yang menjadi kelebihan properti karena nilainya yang terus naik, sementara investasii lain hanya imbal investasinya yang naik, nilai pokoknya sendiri tetap.

“Apartemen di perkotaan itu keniscayaan seiring pertumbuhan penduduk, dan masyarakat pasti memiliki keinginan merealisasikan keinginannya memiliki hunian. Jakarta dengan rasio apartemen masih sangat kecil, akan terus meningkat seiring daya beli yang membaik. Kalau pemerintah bisa memfasilitasi, ini akan bisa mempercepat sektor ini kembali pulih,” jelasnya.