HousingEstate, Jakarta - Yun Artified Community Art Center, sebuah museum seni dan ruang pameran seluas  1.584 meter persegi di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, digagas seniman wanita Yince Djuwidja. Peresmian pusat kegiatan seni yang memiliki fasilitas ruang pameran, ruang workshop, dan perpustakaan ini dilakukan Jumat (18/1/2019). Yince yang mulai melukis sejak lima tahun lalu termotivasi mendirikan Art Center sebagai wadah para seniman memamerkan karya-karyanya.

“Kalau kita berpameran di Museum Nasional, biayanya mahal sekali. Karena itu lebih baik buat saja museum sendiri untuk tempat pameran dan workshop,” katanya saat konferensi pers grand opening Yun Artified Community Art Center. Untuk menandai dibukanya gedung tiga lantai yang berada satu lokasi dengan rumahnya itu, Yince menggelar pameran lukisan karyanya dan seniman patung asal China Zheng Lu.

Kurator Jim Supangkat ditunjuk memilih sejumlah karya yang dipamerkan. Salah satunya, karya lukis Chinese Calligraphy yang digarap Yince berukuran 150 x 1500 cm. Lukisan yang dipajang vertikal dari lantai satu hingga lantai tiga itu meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk dicatatkan sebagai lukisan kaligrafi China tertinggi di dunia.

Yince Djuwidja (kiri) menerima penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dari Jaya Suprana (tengah) didampingi kurator Jim Supangkat (foto: HousingEstate/Susilo Waluyo).

Ketua MURI Jaya Suprana menilai, usaha Yince menulis kaligrafi China berisi syair sepanjang 15 meter yang dilakukan secara vertikal (dari atas ke bawah) itu patut diberi apresiasi. “Biasanya rekor penulisan kaligrafi itu dibuat memanjang horizontal. Kali ini secara vertikal. Karena itu saya nobatkan sebagai yang tertinggi di dunia,” katanya saat menyerahkan piagam rekor MURI itu dalam acara yang sama.

Ruang pamer di Yun Artified Community Art Center (foto: HousingEstate/Susilo Waluyo)

Dalam setahun, Yun Artified Community Art Center rencananya akan mengadakan 2-3 kali pameran yang dikurasi senior kurator senirupa Indonesia ternama. Program lainnya yang sudah berjalan adalah art workshop seperti kelas Chinese Calligraphy, Chinese Ink Painting, Canvas Painting with oil or acrylic, Clay-Sculpting dan Brush Pen Calligraphy.

Tersedia juga program Art Advisory yang akan memberi solusi seperti sistem penyimpanan karya seni yang benar, mencocokkan karya seni dengan ruangan, membangun database online untuk koleksi karya seni dan merekomendasikan karya seni sesuai bujet. Sebelumnya Yince Djuwidja mendirikan Indonesia-China Art Association (ICAA) tahun 2013, sebuah organisasi nirlaba berbasis keanggotaan terdiri dari sejarawan seni, sarjana, kurator, kritikus, kolektor, pendidik, dan penerbit seni yang mempromosikan dan mendukung kesenian Indonesia dan China.