HousingEstate, Jakarta - Pengembangan ramah lingkungan merupakan isu yang kian sulit diabaikan guna menciptakan ruang hidup yang berkualitas di perkotaan yang padat. Konsep itulah yang dikembangkan Sinar Mas Land (SML) di kota baru BSD City, Tangerang Banten. Proyek dikembangkan secara terintegrasi memadukan hunian dan aneka fasilitas pendukungnya, dilengkapi semua infrastruktur yang dibutuhkan. Saat ini di BSD City sudah tersedia hampir semua fasilitas kota. Mulai dari tempat belanja, area gaya hidup, mal, sekolah favorit, rumah sakit, hingga perguruan tinggi ternama. “Jadi, untuk memenuhi semua kebutuhannya, penghuni tak perlu ke luar kawasan. Bahkan, pusat bisnis, perkantoran, dan area komersial juga tersedia,” kata Dhonie Rahajoe, Managing Director President Office SML.

HUNIAN DIRANCANG GREEN AND SMARTHOME DENGAN TAMBAHAN SKY BALCONY DI RUANG TERBUKA.

Sejak dikembangkan lebih dari 25 tahun lalu, SML konsisten menerapkan kaidah hijau dalam pengembangan BSD. Bahkan, belakangan konsepnya makin advance, menjadi smart digital city dilengkapi pengembangan kawasan Intermoda dan penyediaan transportasi internal BSD Link. Bike path dan jalur pedestrian sudah lebih dulu tersedia. Lingkungannya tambah nyaman dan teduh dengan banyaknya ruang terbuka hijau (RTH) baik di dalam klaster hunian maupun ruang publik berupa taman-taman dan sabuk hijau (green belt).

Green Property Awards 2018
KLASTER CAELUS, BSD CITY
Green Planning & Design

SML juga membuat sejumlah danau (pond) yang berfungsi sebagai pencegah banjir dan mendinginkan suhu kawasan. Danau-danau itu juga mempercantik lansekap kota dan memiliki nilai jual tinggi. Salah satunya berada di klaster Caelus di kawasan Greenwhich Park. Atas konsistensinya dalam pengembangan kawasan ramah lingkungan itu, HousingEstate mengganjar BSD City dengan Green Property Awards 2018 kategori green planning & design.

Interior Cluster Caelus BSD

“Green lifestyle”

Keberadaan kawasan Intermoda (25 ha) menjadikan BSD City sebagai proyek terterkemuka dalam pengembangan hunian berbasis transportasi publik atau transit oriented development (TOD). Kawasan yang dilengkapi area komersial dan fasilitas parkir (park & ride) itu terintegrasi dengan stasiun kereta komuter Cisauk. Seluruh angkutan publik juga masuk ke kawasan Intermoda seperti BSD Link, shuttle bus, feeder busway, dan angkutan umum darat lainnya. BSD Link yang memiliki belasan armada bus yang beroperasi pukul 05.00–21.00. Jadi, pengguna angkutan umum dapat berganti moda di Intermoda. “Yang akan ke pusat bisnis di Jakarta bisa berganti naik kereta. Nanti pulangnya dari stasiun ke rumah bisa dijemput atau naik BSD Link yang berhenti di depan klaster hunian,” jelas Dhonie.

Penyediaan angkutan umum khususnya BSD Link, lanjutnya, untuk mewujudkan kota yang efisien dan nyaman. Menuju ke berbagai fasilitas di BSD, penghuni tidak perlu membawa kendaraan pribadi tapi cukup menumpang BSD Link. Moda ini didukung infrastruktur jalan yang baik dan lebar. Sementara penghuni dan profesional yang beraktifitas di kawasan pengembangan tahap I atau BSD bagian timur, bisa menumpang kereta di stasiun Rawabuntu yang jaraknya lebih dekat. Di BSD area timur ini SML mengembangkan kawasan Savia (17 ha). Saat ini memasarkan klaster ke-4 Visana mencakup 180 rumah. Semuanya hunian dua lantai tipe 64/72-159, 78/72-116, 87/84-107, 107/105-185 seharga Rp1,1-2,3 miliar. Dari stasiun Rawabuntu, klaster dapat ditempuh kurang dari 10 menit. Di dekatnya banyak fasilitas.

Selain dengan kereta dan angkutan darat, BSD juga mudah diakses melalui jalan tol. Ada empat ruas jalan tol yang terkoneksi dengan kota baru itu: Serpong-Jakarta (Pondok Indah), Serpong-JORR W2, Serpong-Kunciran-Bandara, dan Serpong-Balaraja-Bandara. Efisiensi kawasan kota didukung pengembangan proyek-proyek multifungsi (mixed use development), seperti Digital Hub dan Upper West. Digital Hub adalah eco-project seluas 26 ha yang mengadopsi Sylicon Valley di Amerika Serikat untuk tech/digital companies, startup, e-commerce, R&D center, dan pusat animasi. Digital Hub didukung infrastruktur IT memadai, dilengkapi fasilitas ritel dan lifestyle sehingga orang bisa bekerja, berbisnis, dan bersantai tanpa harus keluar kawasan.

Upper West di CBD 55 menerapkan konsep serupa, yaitu The Living Hub yang mengombinasikan living, playing and working. Bangunannya dua tower mencakup apartemen, SOHO, office, ritel. Tahap pertama dipasarkan north tower 36 lantai sebanyak 293 unit tipe 1 dan 2 kamar tidur (KT) 42-85,8 m2 seharga Rp1,2-2,4 miliar/unit. Konsep pengembangan BSD City itu mendorong terciptanya gaya hidup ramah lingkungan, karena semuanya terintegrasi atau berdekatan satu sama lain, cukup dicapai dengan berjalan kaki.

 

Resort Home

Pembangunan klaster hunian juga menerapkan kaidah hijau. Salah satunya Caelus di kawasan Greenwhich Park (47 ha). Caelus adalah klaster ke-7 di kawasan tersebut. Enam klaster sebelumnya sudah selesai dibangun. Yaitu, Mayfield, Sheffield, Whitsand, Luxmore, Hylands, dan Whelford. Rancangannya menyerupai hunian resor. Perancangnya arsitek Denny Gondo mengalokasikan ruang terbuka cukup luas. Jadi, lingkungan hijaunya banyak. Seluruh klaster di Greenwhich Park terkoneksi langsung dengan greenery area melalui connectivity path sepanjang 6 km. Selain itu di kawasan terdapat holiday resort (1,6 ha) yang terbagi dalam tiga tema lagoon pool, club house untuk anak (Phi-Phi Club House), club house remaja (Bora-Bora), dan club house dewasa (Barbuda).

Klaster ini mencakup 218 rumah tipe 146/112, 177/144, 248/180 seharga Rp3-5 miliaran. Setiap rumah dilengkapi piranti smart home dan solarhart water heater. Penerangan, AC, TV, dan CCTV dapat dikontrol dari jarak jauh melalui aplikasi di smart phone. Desain bangunan rumahnya tropical contemporer dengan atap tinggi curam. Selaras dengan nama Caelus yang berarti langit (sky). Selain fasad yang menarik, Denny menambahkan loteng (attic room) dan balkon di atas dek carport (sky balcony) sebagai ciri khas rumah split level itu. Sky balcony itu bisa dimanfaatkan untuk ruang sosialisasi di area terbuka dengan view taman dan pepohonan di sekelilingnya.