HousingEstate, Jakarta - Hotel kapsul pertama di Indonesia dibuka PT Intiland Development Tbk melalui PT Intiwhiz Hospitality Management di Grand Whiz Hotel Trawas, Mojokerto (Jawa Timur), pada Oktober 2017. Bentuknya berupa kapsul atau boks-boks tempat tidur built in siap pakai bertumpuk dua dalam modul-modul besar berisi 16 kotak tidur/modul atau kurang, yang diletakkan di sebuah ruang tertutup.

Belum sampai setahun, sudah hampir 10 hotel kapsul didirikan orang.

Setiap modul pada ruangan dipisahkan koridor untuk lalu lintas penginap. Ruangan modul boks tidur untuk penginap laki-laki dan perempuan dibuat terpisah dengan akses berbeda. Ukuran kapsul yang terbuat dari fiberglass dengan desain futuristik itu 1,4 x 2 m2 dengan tinggi plafon 1,2 per unit, cukup untuk tidur satu orang dewasa dengan berat maksimal 130 kg. Bila tidak tidur, penginap hanya bisa beraktifitas di dalamnya sembari duduk.

Karena terbuat dari fiberglass, penginap terutama di boks tidur atas sangat disarankan tidak terlalu heboh beraktifitas atau tidur, karena akan mengganggu penginap di boks di bawahnya. Untuk akses ke boks tidur di bagian atas disediakan sebuah tangga mungil yang menempel di dinding modul. Setiap kapsul dilengkapi cermin besar, pesawat TV 22 inci, meja lipat kecil yang menempel ke dinding, stop kontak, USB port, earphone, safe deposit box mungil, sistem pencahayaan, remote control TV, alat pemadam kebakaran, pengatur suhu AC, dan koneksi WiFi.

Semua perangkat dalam kapsul dioperasikan secara elektronik dan touch screen, termasuk lampu yang bisa dibuat terang atau redup dan berbeda warna cahayanya. Mirip kamar tidur di pesawat ruang angkasa. Akses ke dalam kapsul serupa dengan kamar konvensional, menggunakan kartu, dengan pintu berupa pintu geser.

Di luar ruang untuk menempatkan modul-modul kapsul, disediakan belasan kamar mandi berupa shower sharing (1 kamar mandi untuk 7 kapsul) dengan air panas atau dingin, toilet, dan wastafel bersama, dilengkapi loker-loker penyimpanan yang jumlah unitnya sama dengan jumlah kapsul tidur. Di dalam loker sudah tersedia handuk, toiletries, dan alas kaki (selop). Sementara sabun mandi cair diadakan di setiap kamar mandi yang diletakkan berjajar dengan wastafel dan toilet.

Seperti pintu kapsul, pintu loker juga hanya bisa dibuka dengan kartu yang disediakan pihak hotel. Begitu pula pintu kaca sebagai akses satu-satunya ke area kapsul dari area kamar mandi atau sebaliknya, hanya bisa dibuka dengan kartu. Lalu lintas penginap di area kapsul hanya boleh menggunakan selop yang disediakan hotel. Sepatu atau sandal milik penginap ditinggalkan di loker. Tarif sewa promo setiap boks kapsul Rp250 ribu/malam. Bandingkan dengan tarif kamar konvensional yang Rp375-900 ribu/malam tergantung tipe/paket.

Kategori baru

Sejauh ini, kata Moedjianto S Tjahjono, Chief Executive Officer (CEO) Intiwhiz Hospitality Management, kendati masih baru, hotel kapsul yang masuk kategori hotel bintang satu atau hostel itu banyak diminati dengan tingkat isian (okupansi) rata-rata 60 persen. Intiwhiz membagi hotelnya dalam tiga kategori: Whiz Hotel (bintang dua), Whiz Prime (bintang tiga), dan Grand Whiz (bintang 4). Dengan adanya hotel kapsul akan ada kategori keempat, hotel bintang satu atau hostel.

“Nanti hotel kapsul kita pisah jadi kategori tersendiri dengan nama Whiz Capsule Hotel,” ujarnya. Total Intiwhiz menghadirkan 100 kapsul tidur di Grand Whiz Trawas yang dibagi untuk penginap laki-laki dan perempuan. Selain di Trawas, Intiwhiz juga mengadakan hotel kapsul serupa di Grand Whiz Hotel Bromo, Probolinggo (Jawa Timur), akhir 2017 sebanyak 80 unit ditambah lima vila.

Ia menjelaskan, Intiland meluncurkan hotel kapsul. karena jaringan hotel Whiz menyasar pasar MICE (meeting, insentive, confrence, exhibition) yang dalam sekali pertemuan membawa ratusan peserta. Selain itu merespon tren masyarakat yang makin suka bepergian secara praktis dan hemat, seperti anak muda yang ramai-ramai melancong, mahasiswa yang tengah try out, dan perjalanan bisnis yang singkat.

Dengan harga tanah yang kian tinggi di dalam kota dan di daerah wisata favorit, bila harus membangun hotel bujet konvensional untuk melayani mereka, investasinya terlalu besar dan tarif menginapnya jadi tinggi. Investasi hotel kapsul hanya Rp100 juta per unit lengkap, hotel bujet konvensional sekitar Rp270 juta. Area atau lahan yang dibutuhkan hotel bujet konvensional juga jauh lebih besar. Untuk 100 kamar setidaknya butuh area 5.000 m2 dibanding hotel kapsul yang hanya 700 m2.

“Itulah alasan kita meluncurkan hotel kapsul. Tren hotel kapsul ini harus kita ikuti karena sudah menjadi kebutuhan dewasa ini,” kata Moedjianto sembari menyebutkan, Intiwhiz merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang menawarkan hotel kapsul dengan unit benar-benar berupa kapsul built in.

Menurut Vivin Harsanto, Head of Advisory JLL Indonesia, perusahaan riset, manajemen, dan konsultan properti asing di Jakarta, hotel kapsul memang lebih menyasar segmen milenial yang suka menjajal hal baru sekaligus mencari tempat untuk swafoto, kemudian disebar di media sosial guna mendapatkan pengakuan dari komunitasnya (berupa komentar dan like). “Prinsipnya hotel kapsul itu untuk tamu yang ingin cepat dan hanya butuh tempat untuk tidur. Karena difoto-foto dan di-share di medsos, konsepnya jadi cepat menyebar selain memang sudah jadi kebutuhan. Tapi, tidak akan membuat okupansi hotel di atasnya langsung turun,” tuturnya.

Bukan hanya di daerah wisata seperti Trawas dan Bromo, belakangan pendirian hotel kapsul itu juga marak di Jakarta. Yang sudah beroperasi antara lain Old Batavia di Cikini (Jakarta Pusat) dengan tarif menginap mulai dari Rp150 ribu/malam, The Packer Lodge di Kota Tua (Jakarta Barat) Rp130 ribu, Kini Luxury Capsule di Penjaringan (Jakarta Utara) dengan tarif Rp180 ribu (kapsul deluxe) dan Rp240 ribu (kapsul sweet yang lebih luas), dan hostel-hostel dengan tarif mulai dari Rp90 ribu per malam.

Kini Luxury Capsule (34 unit) di Jalan Pluit Timur Blok K Selatan, disebut sebagai hotel kapsul yang lebih mewah karena kapsulnya lebih lega dan fasilitasnya lebih komplit. Selain fasilitas-fasilitas seperti yang disebutkan di atas, Kini Capsule juga didukung CCTV, board games corner, pojok hair dryer untuk perempuan, loker yang cukup untuk menyimpan dua koper kabin, dan laundry. Kini Luxury Capsuel juga diklaim sebagai hotel kapsul pertama yang dikonserp dengan sentuhan budaya Indonesia. Karena itu tagline-nya, “a minimalist luxury capsule hotel with a touch of Indonesia”.

Selain menginap, pengelola hotel juga mengajak para tamunya pada hari tertentu untuk tur kuliner, mengikuti kelas membatik, bermain layangan di Waduk Pluit, dan mengikuti kelas bahasa Indonesia gratis. Miranda Haryanto, pemilik Kini Luxury Capsule, seperti dikutip Kompas.com medio Juli lalu, menyatakan, dari Kota Tua lokasi hotel bisa dicapai dalam tempo kurang dari 10 menit, sedangkan dari Bandara Soekarno-Hatta sekitar 20 menit.

Bisa enam jam

Ada juga hotel kapsul (120 unit) di area seluas 300 m2 di lantai satu Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang, Banten) besutan PT Angkasa Pura II (AP II) dan PT Krisna Graha Primatama (vendor) yang resmi dibuka 10 Agustus lalu. Pengerjaan proyek disebut hanya 90 hari sampai beroperasi. Kapsul berikut fasilitasnya sepenuhnya dibangun mitra usaha atau vendor AP II, AP II hanya menyiapkan ruangan dengan sistem sewa jangka panjang.

Target pasarnya, kata Direktur Utama Angkasa Pura II M Awaluddin, traveler yang transit di bandara sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya atau yang menunggu jadwal keberangkatan pesawat berikutnya yang masih cukup lama. “Ini hotel kapsul pertama di bandara. Konsep hotelnya kekinian yang dibangun berdasarkan survei terhadap pengguna jasa bandara yang butuh tempat istirahat saat menunggu delay penerbangan, atau sekedar beristirahat sejenak (sebelum melanjutkan perjalanan). Cocok untuk para traveler, backpacker, atau mereka yang menunggu penerbangan berikutnya,” katanya seperti dikutip Tempo.com awal Agustus lalu.

Karena itu tarif hotel ditawarkan dalam dua pilihan: Rp260 per enam jam atau Rp375 ribu per malam. Selain kapsul untuk satu orang, Hotel Kapsul Bandara juga menyediakan boks tidur untuk keluarga (2-3 orang). Tarifnya tentu saja lebih tinggi. Sebelumnya AP II sudah mengoperasikan ministay atau hotel mini di Terminal 1 sebanyak 30 kamar dan di Terminal 2 sebanyak 85 kamar.

Moedjianto menyatakan, pengusaha hotel harus tahu betul kebutuhan pasarnya sebelum melansir hotel kapsul. Di Jakarta hotel kapsul jelas sangat potensial. Karena itu Intiland juga akan mengembangkan hotel kapsul di Jakarta. “Targetnya tahun ini kita bisa menambah unit menjadi 200 kapsul (setelah hotel kapsul di Jakarta berdiri). Kemudian  kita buka di lima lokasi lagi. Perkiraan kami enam tahun dari sekarang, hotel kapsul sudah sangat populer di kalangan traveler,” ujarnya.