HousingEstate, Jakarta - Perubahan gaya hidup yang dibawa revolusi industri 4.0 memunculkan berbagai potensi bisnis baru termasuk di bisnis properti. Soal hunian misalnya, mengalami perkembangan terkait perubahan gaya hidup itu. Konsep-konsep hunian bersama (co-living), hunian multifamily, hingga hunian untuk para orang lanjut usia (lansia) atau panti jompo diperkirkan akan makin berkembang.

Laporan terbaru Jones Lang  LaSalle (JLL), perusahaan riset dan manajemen properti global, menyebutkan, cepatnya proses urbanisasi telah mengubah cara berhuni dan tempat tinggal manusia. Penerimaan masyarakat terhadap prinsip ekonomi saling berbagai (shared economy) berhasil menjadikan sektor kehidupan sebagai pendorong pengembangan alternatif hunian.

“Kami melihat makin intensifnya permintaan terhadap alternatif pilihan hunian yang terjangkau di seluruh kota-kota Asia Pasifik,” kata Rohit Hemnani, COO and Head of Alternatives Capital Markets JLL Asia Pacific, melalui siaran pers di Jakarta akhir Januari lalu.

Ia memberikan contoh. Di Mumbai, India, hunian khusus mahasiswa menarik keuntungan dari 34 juta mahasiswa di seluruh negeri, permintaannya terus meningkat, kendati secara umum regulasi di India belum menyentuhnya. Diperlukan modal untuk meningkatkan ketertarikan pada hunian khusus mahasiswa itu agar bisa menghasilkann keuntungan investasi antara 10-12 persen.

Panti jompo untuk para lansia secara budaya juga telah bisa diterima di Australia dibandingkan kota lain di negara Asia. Akibat tingkat harapan hidup yang makin tinggi dan makin banyaknya lansia yang hidup sendiri, kebutuhan akan unit-unit hunian khusus untuk mereka juga meningkat dan mendorong developer pembangunannya. Saat ini Sydney di Australia merupakan pasar yang sedang bertumbuh dengan estimasi keuntungan mencapai 6-8 persen.

Hunian multifamily atau gedung apartemen merupakan hunian bersama dan telah menjadi salah satu sektor yang paling stabil. Perbandingan antara penyewa dan pemilik unit diharapkan terus meningkat, karena harga rumah di seluruh pasar utama Asia Pasifik sudah jauh melampaui harga sewa. Tokyo di Jepang disebut telah menjadi pasar yang sangat stabil dengan keuntungan 3,5-4,5 persen, yang membuat sektor properti ini memiliki proteksi yang tinggi terhadap risiko kerugian.

Sementara co-living atau kos-kosan yang dilengkapi fasilitas bersama relatif masih sangat baru di Indonesia, tapi dengan potensi perkembangan yang sangat pesat seperti di Hong Kong dan Singapura. Populasi anak muda yang besar di Indonesia merupakan pendorong yang cepat pengembangan hunian seperti co-living.

James Taylor, Head of Research JLL Indonesia, menambahkan, kos-kosan atau kamar sewa dengan berbagai range harga dan kualitas merupakan konsep yang sudah terbentuk dengan baik di Indonesia. Selain populasi kalangan muda yang besar, yang juga akan menjadi pendorong pengembangan konsep co-living adalah proyek transportasi massal.

“Ke depan konsep co-living akan makin potensial dengan beroperasinya MRT dan LRT (di Jakarta). Beberapa pengembang akan terus menjajaki kemungkinan mengembangkan hunian di titik-titik strategis di kawasan transportasi massal itu. Berkurangnya waktu perjalanan akan meningkatkan minat masyarakat untuk memilih lokasi-lokasi itu sebagai hunian dan ini akan direspon pengembang,” jelasnya.