HousingEstate, Jakarta - Bank BTN mengklaim kembali meraih sukses dalam ajang Indonesia Property Expo (IPEX) 2019 yang diadakannya di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, 2-10 Februari 2019. Dari target penyaluran KPR baru selama pameran sebesar Rp6 triliun, Bank BTN mengaku meraih penyaluran baru Rp8,5 triliun selama pameran.

“Banyak yang menyebut tahun ini bisnis properti masih stagnan, terlebih dengan adanya agenda politik pemilihan presiden April mendatang. Tapi, untuk rumah permintaannya masih besar. Minat masyarakat mencari hunian masih sangat tinggi khususnya untuk wilayah Bekasi diikuti kawasan lain di Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi),” kata Budi Satria, Direktur Consumer Banking Bank BTN, melalui siaran pers di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Budi merinci, dari total persetujuan prinsip penyaluran KPR dalam IPEX 2019 yang mencapai Rp8,5 triliun, kontribusi KPR non subsidi paling dominan dengan nilai Rp6,8 triliun. Untuk KPR bersubsidi Rp706 miliar, dan KPR syariah Rp1,1 triliun. Pemohon KPR terbanyak berasal dari Bekasi, Bogor, dan Tangerang.

Rumah yang paling banyak dibeli tipe 36 m2 dengan range harga Rp130-148,5 juta/unit alias kategori rumah bersubsidi. Kantor BTN Harapan Indah (Bekasi) mencatat peningkatan persetujuan prinsip penyaluran KPR senilai Rp636 miliar atau lima kali lipat dari target. Sementara untuk pemberian persetujuan prinsip tertinggi dari total rencana nilai penyaluran itu diraih kantor cabang BTN Bekasi dengan nilai mencapai Rp736 miliar.

“Permintaan rumah yang tinggi di Bekasi karena faktor harga yang terjangkau dan perkembangan sarana transportasi yang makin baik. Banyak yang membeli rumah di Bekasi karena melihat potensi ke depan. Cocok untuk tempat tinggal sekaligus investasi jangka panjang,” jelas Budi.

Saat pameran, Bank BTN juga meresmikan fitur baru pemantauan stastus pengajuan KPR dan pembayaran tanda jadi (booking fee) secara online baik oleh bank maupun nasabah. Dengan fitur baru itu ditargetkan pengajuan KPR melalui sistem online mencapai Rp6 triliun atau lebih tinggi dari tahun 2018 sebesar Rp3,8 triliun.