HousingEstate, Jakarta - Produsen baja NS BlueScope menggelar penghargaan karya arsitektur “Steel Architectural Award 2019”. Di penyelenggaraan tahun kedua ini BlueScope tetap fokus mendorong setiap profesional bangunan di Indonesia untuk mengeksplorasi baja lapis sebagai bahan bangunan masa depan. Ajang yang kali ini mengusung tema Envisioned The Future of Steel as World-Class Masterpiece diikuti para peserta dari kalangan arsitek, pemilik proyek, kontraktor, dan seniman.

Berbeda dengan tahun 2018, tahun ini ada enam kategori penghargaan yang diberikan. Yaitu, commercial architecture, industrial architecture, infrastructure and public architecture, residential architecture, energy and mining architecture, dan artwork object untuk seniman yang memakai bahan baja lapis dalam karya seninya.

Penghargaan tidak hanya mengakui profesional proyek bangunan dan seniman yang memiliki ide segar, inovasi desain, dan keunikan mahakarya untuk membuat bangunan atau seni berbasis baja lapis, tapi juga memperlihatkan keberagaman visi, serta peningkatan kesadaran untuk menggunakan baja lapis pada proyek mereka di masa depan.

Penilaian karya yang masuk dilakukan Presiden Direktur NS BlueScope Indonesia Yan Xu dan arsitek-arsitek yang memiliki prestasi internasional dan berkompeten di bidang desain serta arsitektur. Di antaranya Tan Tik Lam (Tan Tik Lam Architects), Alvin Tjitrowiryo (founder & Creative Director alvinT), Ario Andito (founder StudioSae & Biro Arsitek Parametr), dan Beta Paramitha, dosen arsitektur Universitas Pendidikan Indonesia.

Sebanyak 55 karya yang masuk dinilai dari sisi penggunaan material baja lapis yang utama, diikuti oleh optimalisasi bentuk, kreativitas pada fungsi bangunan, mendorong pengembangan lingkungan sekitar, dan implementasi konsep bangunan hijau.

“Kami menerima entri yang lebih menarik daripada tahun lalu. Tahun ini kami juga menerima entri berupa karya seni dari seniman-seniman yang mewujudkan karyanya dengan bahan utama baja lapis. Para juri menitikberatkan penilaian pada kreativitas dari bahan baja lapis yang kuat, tahan lama, dan mampu diaplikasikan secara fleksibel pada bangunan dan karya seni,” jelas Yan Xu saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (12/3/2019), yang dilanjutkan dengan pemberian award kepada pemenang.

Di hari yang sama, BlueScope juga melangsungkan seminar Colorbond Steel Architectural, membahas berbagai pengetahuan di dunia arsitektural dan penggunaan bahan metal yang lebih kuat, lebih tahan lama, serbaguna, serta memberikan ketenangan pikiran untuk semua jenis kebutuhan bangunan. Pembicaranya antara lain Norihiko Dan (arsitek/urban designer) dan Prof Peter Stutchbury (arsitek Australia).

Dua kegiatan tersebut merupakan rangkaian akhir dari acara yang didukung Colorbond, merek produk baja lapis dari BlueScope, yang dimulai September 2018. Untuk mendorong pendekatan menyeluruh aplikasi baja lapis di Indonesia, sebelumnya Colorbond berkolaborasi dengan desainer produk Leonard Theosabrata mengadakan workshop Indoestri Day. Selain itu juga bekerja sama dengan institusi pendidikan memberikan edukasi dan inspirasi mengenai bahan baja lapis bagi calon arsitek dengan mengadakan coaching clinic di lima universitas.