HousingEstate, Jakarta - Papan semen atau fibercement board sudah lama menjadi bahan bangunan alternatif di Indonesia menyusul makin sulitnya mendapatkan kayu alami yang baik. Dinamai papan semen, ada juga yang menyebut papan kalsium silikat atau glassfiber reinforced cement (GRC), karena bahan baku utamanya memang semen dicampur serat fiberglass atau selulosa agar tidak mudah pecah dan kuat, ditambah pasir dan bahan lain. Campuran itu kemudian dibentuk dan dicetak menyerupai papan kayu lengkap dengan tekstur urat kayunya selain yang polos.

Kendati harganya masih lebih mahal, aplikasinya jauh lebih cepat dan bobotnya lebih ringan.

Papan semen makin banyak digunakan baik untuk aplikasi ruang dalam maupun luar seperti plafon, lisplang, pagar, partisi, penutup dinding kolom, sampai dinding luar dan lantai, karena memiliki beberapa kelebihan dibandingkan papan kayu atau gipsum. Bentuknya cukup solid, tidak dimakan rayap, tidak memuai, lebih tahan api dan tahan air. Produk juga diklaim cukup baik meredam suhu panas/dingin dan bisa menahan rembesan air serta lebih tahan lembab. Penggunaannya menyerupai kayu, bisa dibentuk dan dipotong dengan gergaji dengan bobot lebih ringan.

Dry construction

Menurut Bagus Hendarto, Marketing & Technical Manager PT Etex Building Performance Indonesia (EBPI), produsen papan semen Kalsi, papan semen bukan lagi material substitusi kayu atau gipsum tapi produk yang mendukung sistem pembangunan yang lebih praktis dan cepat. “Seiring perkembangan zaman, proses konstruksi bangunan dituntut lebih cepat, efisien, murah dan bersih. Papan semen bisa memenuhi tuntutan itu seiring berkembangnya sistem konstruksi kering (dry construction). Produk juga ramah lingkungan karena tidak mengandung asbes,” katanya.

Dry construction adalah sistem pembangunan yang bertujuan meminimalisir limbah atau buangan (waste), seperti pada konstruksi yang prosesnya membutuhkan air (pengecoran, pemasangan bata, plesteran-acian, dan sejenisnya yang kotor, lama, dan menyisakan limbah). “Untuk mengoptimalkan sistem dry consruction dibutuhkan material yang lebih modular seperti papan semen. Selain kering, dry construction juga memudahkan perencanaan bangunan sejak desain hingga konstruksi, serta mengurangi beban bangunan secara signifikan sehingga lebih tahan gempa dan lebih mudah mengatur pembagian ruangnya,” urai Bagus.

Gampangnya, sistem dry construction tinggal membuat pondasi dan memasang rangka metal, setelah itu dituntaskan dengan papan semen mulai dari fasad, partisi, lantai, hingga plafon. Dody Krisdiana, Marketing Project PT Siam-Indo Concrete Products, produsen papan semen Woodplank menyebutkan, sejauh ini di Indonesia penggunaan papan semen memang masih terbatas untuk partisi dan aplikasi interior lainnya. Padahal, produk cukup fleksibel mengikuti perkembangan desain yang kian beragam.

“Di luar negeri penggunaan produk sudah sangat luas karena berkembangnya sistem dry construction itu. Produk digunakan layaknya kayu alami dan dicat untuk memunculkan urat kayunya sehingga tampilan bangunan juga natural,” jelasnya. Kekuatannya cukup memadai, mencapai 175 kg/cm2. Ia mengakui, papan semen dipukul dengan kayu bisa jebol. Tapi, tembok bata juga bisa jebol bila dihantam palu. Karena belum familiar dan pasarnya belum siap itu, Woodplank untuk aplikasi dinding luar belum dipasarkan di Indonesia. Sementara untuk plafon, lisplank, partisi dan aplikasi interior lainnya, papan semen sudah lazim dipakai di Indonesia.

Lantai juga bisa

Selain untuk dinding luar, papan semen juga sudah tersedia untuk pelapis lantai. Produknya lebih tebal dan kuat. Beberapa merek bahkan menambahkan lapisan dalamnya dengan material lain untuk membuatnya makin solid dan kuat. Kalsi misalnya, memiliki tipe KalsiClad 10-12 dengan ketebalan 10-12 mm yang tahan sinar ultraviolet (UV) sehingga bisa untuk pelapis dinding luar. Pemasangannya dibaut ke rangka baja dengan tiap sambungan direkatkan dengan sealent khusus yang juga tahan cuaca. Untuk lantai ada KalsiFloor 20 yang merupakan board covering dengan ketebalan 20 mm. Pemasangannya disekrup rangka baja, bisa dipakai untuk lantai mezanin, ruang tambahan, dan sejenisnya.

Produk lain untuk dinding luar adalah GRC Board dari PT Bangunperkasa Adhitamasentra, melalui seri GRC Sandwich Panel khusus. Produk dibuat seperti roti isi (sandwich) berupa dua bidang papan semen GRC Board yang menutup bagian tengah berisi stereofoam, semen, pasir, dan lain-lain sehingga lebih kuat. Ketebalannya mencapai 5-15 cm dengan ukuran 1,2 x 3 m2 per lembar. Untuk dinding luar disarankan menggunakan papan setebal 10-15 cm.

“Pemasangannya dengan struktur besi yang ditancapkan ke dalam tanah sehingga berfungsi juga sebagai struktur dinding. Ada lubang-lubang pada GRC Sandwich Panel untuk dipasangi besi struktur. Aplikasinya tentu lebih cepat dan menghilangkan proses semen dan acian. Produk bisa langsung dicat (setelah terpasang),” kata Efendi Wijaya, Digital Marketing PT Ciptapapan Dinamika, distributor resmi GRC Board.

Sambungan dinding menggunakan compound (perekat) khusus yang diklaim sangat kuat dan tahan retak hingga bertahun-tahun. Setelah terpasang, dinding papan semen ini diklaim sama seperti dinding bata, menjadi insulasi suara yang baik, kuat terhadap benturan, dan bisa dipaku seperti biasa untuk menggantung jam dinding, lukisan, cermin, dan lain-lain. Harganya memang masih lebih mahal dibanding dinding konvensional, tapi pemasangannya jauh lebih cepat. Papan dengan ketebalan 10 cm harganya Rp380 ribu/lembar di luar compound dan ongkos pasang. Untuk partisi ruang dalam bisa dipakai papan dengan ketebalan 5 cm seharga Rp260 ribu/lembar.

“Di negara maju produk seperti ini sudah lazim digunakan karena lebih praktis dan cepat. Di Indonesia masih banyak stigma ragu terhadap kekuatan produk. Makanya belum populer. Padahal, pemerintah (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) sudah memakainya untuk pembangunan rumah murah di daerah-daerah. Jadi, mestinya masyarakat tidak perlu ragu lagi (dengan kehandalan papan semen sebagai dinding luar),” jelas Efendi.

Secara umum harga papan semen standar sekitar Rp60 ribu/lembar (ukuran 60 x 120 cm). Sementara untuk aplikasi dinding luar dan lantai yang jauh lebih tebal, harganya bisa mencapai Rp500-600 ribu/lembar. Ukuran papan tersedia mulai dari 150 x 3.000 mm sampai 200 x 4.000 mm per lembar. Di luar yang disebutkan di atas, masih banyak mereka produk papan semen lain seperti Conwood, Jayaboard, Biowood, Shera, dan lain-lain.

 

Yang Berwarna Juga Ada

Thailand adalah salah satu negara produsen papan semen yang paling agresif berekspansi ke Indonesia. Selain Conwood dan Woodplank, ada juga Shera. Shera berasal dari kata sher yang berarti pohon dalam bahasa Thailand, merefleksikan misi utama perseroan menjaga kelestarian hutan dan alam dengan menciptakan produk fiber cement sebagai penggantinya. “Ini produk inovatif pengganti kayu yang menampilkan nuansa dan keindahan kayu asli (saat diaplikasikan),” kata Gabriel Montadaro, Direktur Utama PT Shera Building Solution Indonesia.

Shera menawarkan papan semen dalam pilihan tampilan kayu yang realistis dengan serat-serat yang terkesan terbentuk selama bertahun-tahun di hutan. Shera mengklaim telah mengantongi sertifikat produk hijau karena tidak mengandung asbes. Salah satu produk terbarunya adalah Shera Plank yang sudah berwarna. Biasanya papan semen dijual dalam warna natural abu-abu sehingga masih memerlukan pengecatan untuk membuatnya lebih indah.

Shera Plank berwarna tersedia dalam dua pilihan tekstur: cassia texture dan teak texture. Produsen memberi garansi warna tidak mengelupas selama lima tahun. Konsumen tinggal mengaplikasikan papan untuk list atap atau dinding fasad. Ukuran papan standar 8 x 150 x 3000 mm, 8 x 200 x 3000 mm, 8 x 150 x 4000 mm, dan 8 x 200 x 4000 mm. Harganya mulai dari Rp40 ribu/lembar. Selain itu Shera juga mengeluarkan papan semen dekoratif dengan pola-pola kerawangan yang dibentuk dengan teknik laser cut. Ukuran terkecil 60 x 60 cm dengan ketebalan 8 mm. Harganya Rp150 ribu/lembar.