HousingEstate, Jakarta - Perusahaan penyedia material alternatif untuk desain arsitektural dan interior Viro melakukan inovasi terbaru dari konsep archineering yang diperkenalkannya sejak tahun 2015. Archineering adalah konsep arsitektur dengan menekankan kelenturan dan kekuatan yang memungkinkan material dari Viro dibentuk, ditekuk, dan dianyam sesuai dengan pola yang diinginkan.

Viro merupakan material berbahan fiber eco-faux yang ramah lingkungan. Dalam pameran bahan bangunan di BSD Tangerang (Banten) Maret lalu, Viro menampilkan karya terbaru “Modular Forest Pod”, bekerja sama dengan arsitek Dani Hermawan dari Formologix untuk menjawab permintaan pasar dalam rancang bangun kawasan wisata terkini.

Modular Forest Pod bisa diaplikasikan untuk berbagai kebutuhan seperti resor, temporary lodging (tempat tinggal sementara), vila, dan kebutuhan hunian luar ruangan lainnya. Konsep Modular Forest Pod terinspirasi dari konsep rumah pohon, tetapi dirancang untuk diposisikan di permukaan tanah.

Modular Forest Pod memiliki bentuk heksagonal yang terdiri dari enam segitiga sama sisi sebagai modul dasar. Masing-masing segitiga dapat digunakan sebagai ruang makan, ruang tamu, ruang menyimpan barang atau kamar mandi, yang dapat diatur sesuai kebutuhan. Modular Forest Pod memiliki fondasi bangunan yang kuat, usia pakai lama dan tahan segala cuaca dengan tata cara perawatan material yang mudah dan sederhana.

“Konsep ini tentunya merupakan jawaban atas tantangan bisnis yang dimiliki para pemilik penginapan dan resor, yang terus menerus dituntut menawarkan inovasi dan meningkatkan efisiensi serta solusi material bangunan yang lebih ramah lingkungan,” kata Johan Yang, Executive Vice President PT Polymindo Permata, perusahaan pemilik merek Viro.

Lantai dari teak polymer composite (TPC) (foto: dok. Viro)

Di bagian dalam, pengembangan teknologi material terbaru yang digunakan di antaranya teak polymer composite (TPC) pada penutup lantai. TPC merupakan material ramah lingkungan hasil dari gabungan sisa serbuk kayu jati dengan termoplastik yang seutuhnya dapat didaur ulang kembali.

Serbuk kayu jati sisa untuk materi TPC diambil dari pengrajin furnitur Yogyakarta, bahan plastik yang digunakan merupakan hasil daur ulang dari limbah industri yang dihasilkan fiber eco-faux. Selain itu material ini juga 100 persen dapat didaur ulang.