HousingEstate, Jakarta - Persoalan rumah layak dengan harga terjangkau bukan hanya ada di Indonesia, juga di negara-negara berkembang lain yang penduduknya didominasi warga miskin. Dinilai sebagai masalah global, banyak lembaga nirlaba yang peduli dan secara aktif membantu menyelesaikan. Salah satunya Building Trust International (BTI) yang berbasis di Inggris.

Lembaga penggalang dana di bidang pembangunan hunian terjangkau yang berdiri sejak 2010 ini, menjadikan desain yang berkelanjutan sebagai dasar solusi untuk pembangunan rumah murah untuk orang banyak itu. Tidak heran BTI berkembang menjai lembaga yang beranggotakan aneka profesi terkait dari sejumlah negara seperti arsitek, perencana, dan kontraktor.

Mereka bekerja dengan komunitas dan pejabat lokal, juga pihak donor di daerah yang akan dibantu.  Guna mendapatkan desain terbaik, BTI menyelenggarakan kompetisi yang bisa diikuti arsitek mancanegara. Harapannya ide desain tersebut tidak saja sesuai dengan karakter warga dan daerah yang akan dibantu, juga bisa diadopsi di daerah lain yang berkarakter serupa.

Selain akan diwujudkan desainnya, pemenang kompetisi juga mendapat hadiah utama US$20.000. Kompetisi berlabel “The Housing Design Challenge” itu tahun lalu bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) dan The Phnom Penh Special Economic Zone (SPZ) mengingat area kompetisi tahun 2018 ada di Phnom Penh, Kamboja.

Menawarkan solusi optimal

Tantangan desainnya adalah hunian terjangkau itu ditujukan bagi buruh pabrik di kawasan industri yang berlokasi di kawasan ekonomi khusus. Di daerah tersebut ada 17.000 buruh pabrik dan hanya sedikit yang mampu memiliki hunian layak dan terjangkau. Hal itu membuat mereka harus menyewa ruang dengan fasilitas seadanya dan tingkat kemanan rendah.

Syarat yang harus dipenuhi, setiap unit harus layak sebagai tempat tinggal untuk keluarga atau pasangan muda tanpa anak. Minimal berisi satu kamar tidur, satu ruang keluarga, satu dapur dan satu kamar mandi. Kompleks hunian harus dilengkapi dengan fasilitas dasar penghuni seperti ruang ritel, taman bermain anak, dan ruang terbuka hijau.

Pembangunannya menawarkan teknologi yang mendukung desain yang berkelanjutan sesuai standar yang berlaku. Jumlah huniannya harus 3.000 unit dengan harga jual US$16.000 atau setara Rp 237 jutaan per unit. Pada kompetisi tahun ini pemenangnya terpilih tim arsitek dari biro atArchitecture dari Bombay, India, yang menyisihkan 3.000 peserta dengan 400 proposal.

Menurut dewan juri, proposal desain atArchitecture memberi solusi optimal dari problem yang ada. Tim arsiteknya dinilai berhasil menjelaskan empat prinsip utama dalam menjawab tantangan tersebut. Yaitu, kenyamanan penghuni, kehidupan komunitas, biaya pembanguann, dan efisiensi ruang/kelestarian. Para arsiteknya cerdas menyiasati ruang hunian sehingga tidak sekadar fungsional tapi juga nyaman.

Diberi judul “Home Within House”, secara konseptual atArchitecture mengolah desainnya menjadi tiga hal utama: house, home dan within atau isian. Pada house tercakup empat elemen utama. Yakni, cluster, fasilitas bersama, area rekreasi dan jalan. Cluster apartemen berorientasi ke arah utara dan selatan guna membatasi panas sinar matahari pagi (dari timur) dan sore (barat).

 

Efisien dan fleksibel

Fasilitas bersama berdesain semi-terbuka, dan pada bagian tertutup berlangit-langit tinggi (double-heighted) dan ditempatkan di ujung setiap cluster. Sebuah koridor besar yang tak terputus menghubungkan semua cluster tersebut, di tengah koridor  ditempatkan area bermain dan ruang terbuka hijau. Seluruh kawasan akan dikoneksi dengan jalan melingkar yang dilengkapi jalur sepeda dan menyatu dengan area tepi sungai yang akan dilengkapi dengan pasar.

Home adalah bagian dari cluster yang dibentuk secara pola silang antara bidang solid dan terbuka, sehingga tercipta halaman di dua sisi setiap unit.  Pada halaman yang diisi jaringan utilitas, terdapat kebun yang menyambung dengan dapur dan teras semi terbuka yang berfungsi sebagai perluasan apartemen, serta jalur sirkulasi yang efisien. Sementara halaman di sisi lain tersambung dengan ruang terbuka publik yang terlihat dari ruang keluarga di setiap unit.

Halaman, jendela, dan ventilasi didesain dengan prinsip ventilasi silang dan mengutamakan pencahayaan alami, sehingga udara di bagian ini menjadi lebih sejuk.  Pola silang tadi membuat ada unit-unit yang dihubungkan dengan “jembatan” dari  koridor. Jembatan dibuat semi terbuka sehingga dari sini bisa memandang ke taman di bawah atau jalur sirkulasi di lantai lain.

Sementara pada bagian Within, keberadaan ruang transisi yang dibentuk dari teras dan balkon pada setiap sisi unit, membuat antara ruang luar dan dalam seakan tiada batas. Pola ruang dan alur pergerakan ruang bersama ke dalam bagian cluster, didesain untuk mendorong penghuni saling berinteraksi sekaligus memberi rasa aman. Batas unit yang menghadap ke ruang terbuka dibuat bersilangan antara “dinding” dan jendela.

Pola demikian membuat bagian dinding seperti disorong ke luar, sehingga sisi dalamnya bisa dimanfaatkan sebagai rak/lemari penyimpanan. Sedangkan bagian jendela menjadi berteras, sehingga terproteksi dari tampiasan air hujan atau panas sinar matahari langsung, sekaligus menjaga privasi penghuni. Ruang dalam unit ditata sederhana, dan efisien, menggunakan seminimal mungkin sekat permanen sehingga pemanfaatan ruang menjadi lebih fleksibel.

Tim atArchitecture berhasil membuat 3.004 unit hunian yang disebar dari empat cluster dengan jumlah menara dan unit di setiap cluster bermacam-macam. Tinggi setiap menaranya hanya empat lantai dengan setiap unit hunian berukuran 35,55 m2 (gross).