HousingEstate, Jakarta - Hutomo Mandala Putra, putra kedua mantan Presiden Republik Indonesia Soeharto yang akrab disapa Tommy, melalui perusahaannya PT Berkarya Makmur Sejahtera berkomitmen membangun satu juta rumah murah. Ia mengaku telah memulainya di proyek percontohan rumah murah seluas 20 ha di Sentul, Bogor, Jawa Barat, sebanyak 4.000 unit tipe 30/60. Kini Tommy menggandeng pengusaha asal Dubai, Uni Emirat Arab, yang tergabung dalam  Bin Zayed Group untuk melanjutkan proyek rumah murah itu di seluruh daerah Indonesia.

Keduanya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk berkolaborasi pada Kamis (11/4/2019) di Jakarta. Kucuran modal yang disiapkan Bin Zayed Group sekitar US$3-5 miliar atau Rp42-70 triliun (kurs Rp14.000). Tidak hanya menggarap properti, kerja sama keduanya juga akan mencakup pembangunan pembangkit listrik dan energi terbarukan (renewable energy) seperti panel surya.

“Kendala kita itu di permodalan. Kalau lahan sudah tidak jadi masalah,” kata Komisaris Utama PT Berkarya Makmur Sejahtera Hutomo Mandala Putra, saat konferensi pers usai penandatanganan MoU PT Berkarya Makmur Sejahtera dengan BIN Zayed Group (Dubai, Uni Emirat Arab).

Tommy merinci jika investasi senilai US$5 miliar dikonversikan ke dalam proyek rumah murah senilai US$10 ribu per unit atau sekitar Rp145 juta, maka ia siap membangun kurang lebih 500 ribu rumah. Proyeknya dipastikan akan menyebar di seluruh daerah di Indonesia secara bertahap, tidak memusat di Jabodetabek saja.

Tommy juga berharap kerja sama ini bisa memberikan dampak domino seperti berkembangnya proyek pasir galian, galian batu, suplai perabotan, sampai warung-warung di daerah-daerah. “Kita akan melakukan mapping, yang kurang rumahnya di daerah mana saja. Harga rumahnya akan mengikuti market dan ada beberapa tier (kelas) berbeda,” kata Direktur Utama Berkarya Makmur Sejahtera Milasari Kusumo Anggraini.

Sementara CEO of Bin Zayed Group Sheikh Midhat Kamil Kidwai mengatakan, perusahaannya menargetkan kerja sama ini dapat mendorong pembangunan 500 ribu hingga satu juta unit rumah terjangkau dalam satu tahun. “Bentuknya bisa rumah horisontal (tapak) atau vertikal (rusun), tergantung kebutuhan dan lahan yang tersedia,” katanya.

Rencananya, dalam tiga bulan ke depan rincian proyek yang akan digarap baru akan ditetapkan. Kemungkinan pengembangan lahan di Sentul yang masih ada sekitar 100 ha akan menjadi proyek perdana dari kerja sama. “Tapi, di situ tidak akan semuanya jadi rumah tapak murah. Akan ada juga rumah menengah, rusunami, dan rumah eksklusif,” ujar Tommy.