HousingEstate, Jakarta - Di tengah situasi pasar yang masih lesu, Gapura Prima Group mengaku bisa meraih penjualan Rp300 miliaran dari promo undian yang digelarnya sejak September tahun lalu. Hal itu diungkapkan Arvin F Iskandar, Managing Director Gapura Prima Group (GPG), kepada pers saat penyerahan hadiah utama (grand prize) undian Gapura Prima Surprise itu secara simbolis di Hotel Ultima Horison Bhuvana, Jalan Raya Ciawi 487, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, akhir pekan lalu (13/4/2019). Hadiah utamanya berupa mobil Toyota Fortuner. Hadir dalam acara itu Chief Executive Officer (CEO) GPG Rudy Margono, Komisaris Rudy Kurniawan, dan Head Div Sales & Marketing Darmaja.

Menurut Alvin, banyak kiat dilakukan developer agar tetap bisa berjualan saat situasi pasar lesu seperti sekarang. Salah satunya dengan menggelar promo undian berhadiah kendaraan bermotor, liburan ke Bali dan Singapura, produk elektronik, voucher belanja dan menginap di hotel-hotel yang dikembangkan GPG, dan lain-lain. Promo undian itu ternyata cukup efektif membantu mengangkat penjualan perseroan.

“Sejak awal September 2018 sampai akhir Maret 2019 bisa menghasilkan penjualan Rp300 miliaran, menyumbang 35 persen penjualan tahun lalu. Total sepanjang 2018 penjualan kami mencapai Rp400 miliar dengan net income Rp50 miliar, meningkat dibanding tahun 2017 yang Rp35 miliar. Itu penjualan dari yang tbk (perusahaan terbuka di GPG) saja. Kalau semua proyek termasuk yang dikembangkan perusahaan non tbk, penjualan kami mencapai Rp800 miliaran,” tuturnya.

Penyumbang penjualan terbesar masih sembilan perumahan tapak GPG seperti Bukit Cimanggu City di Bogor, Green Leaf di Rajeg (Tangerang), dan Metro Cilegon (di Cilegon, Banten), dengan harga rumah mulai dari Rp200 jutaan per unit. Disusul apartemen dengan harga juga mulai dari Rp200 jutaan per unit, dan properti komersial seperti Hotel Bhuvana yang dikelola jaringan hotel Horison itu.

Darmaja menyebutkan, Bhuvana mencakup 220 unit kondotel (apartemen yang dioperasikan sebagai hotel) serta 51 vila di satu kawasan seluas empat hektaran. Empat unit vila di antaranya terkoneksi langsung dengan hotel dan penghuninya bisa menikmati semua fasilitas hotel secara gratis. Keempat vila eksklusif itu dijual Rp5 miliar per unit. Sedangkan 47 vila lainnya yang tidak terhubung langsung dengan hotel, dibandrol Rp1,3 miliar. Ukuran bangunannya 5 x 15 sampai 8 x 15 m2 dengan bangunan dua lantai. Sedangkan luas empat vila eksklusif itu dua kali lebih besar.

Total unit kondotel yang terjual saat ini sudah mencapai 70 persen. Unitnya 60 persen berupa tipe studio 36 m2. Harganya mulai Rp800 jutaan per unit tunai sudah termasuk PPN. Bila dibeli dengan kredit pemilikan apartemen (KPA) harganya menjadi Rp1 miliaran. Sedangkan vila sudah 13 unit yang terpesan dengan tiga unit di antaranya merupakan vila ekslusif itu. Kondotelnya sudah beroperasi sejak beberapa bulan lalu. Okupansi langsung tinggi di atas 70 persen.

“Banyak perusahaan lebih senang menggelar rapat di sini, karena lokasinya dekat ke kawasan Puncak, tapi juga lebih cepat dan mudah dicapai dari Jakarta karena tidak terkena kebijakan buka-tutup (jalan ke arah Puncak atau sebaliknya pada akhir pekan). Jadi, kalau mau kembali ke Jakarta gampang, kalau mau ke Puncak dari hotel orang tinggal sewa kendaraan,” jelas Darma. GPG memberikan garansi sewa 16 persen dua tahun kepada pembeli unit kondotel, terhitung sejak serah terima unit. Pembelian dengan KPA mendapat subsidi bunga fixed (tetap) dua tahun sebesar lima persen.