HousingEstate, Jakarta - Pengembang Trinitiland memposisikan perusahaannya sebagai boutique developer supaya bisa lebih fokus dan personal memberikan pelayanan kepada target konsumennya. Selain itu Trinitiland juga fokus menggarap segmen pasar kalangan milenial dengan segala kendalanya dan menyiapkan produk yang tepat untuk itu.

Menurut Bong Chandra, founder Trinitiland, fokus terhadap segmen milenial membuat penyajian produk, strategi cara bayar, hingga promosi, dilakukan dengan cara yang benar-benar berbeda.

“Milenial itu nggak bisa disuruh beli properti dengan tulisan, ini produk yang cocok untuk milenial. Pendekatannya sama sekali berbeda dan itu yang terus kita upayakan,” katanya kepada housingestate.id di acara Triniti 10th Anniversary di Jakarta akhir pekan lalu.

Bong merinci berbagai upaya yang dilakukan untuk menggaet konsumen milenial tersebut. Semuanya dilakukan secara komprehensif mulai dari cara berpakaian awak marketing yang harus smart casual, sampai program, branding produk, dan penentuan spot-spot kampanye. Kerja sama dengan pihak terkait seperti perbankan juga dilakukan, tapi yang lebih penting lagi bahasa yang digunakan harus satu frekuensi, yaitu bahasa milenial.

Tagline seperti ‘produk investasi terbaik’, ‘hari Senin harga naik’, dan yang semacam itu tidak efektif lagi. Kampanye terbesar dilakukan melalui media sosial dengan menggandeng influencer dan selebritas yang dikenal di medsos itu. Makanya media yang paling banyak digunakan untuk berpromosi sekarang adalah Instagram, Youtube, Twitter, dan Facebook.

Talk show dan sejenisnya juga menjadi media promosi, tapi temanya tidak langsung membahas soal properti atau kebutuhan hunian bagi milenial. Temanya bisa beragam tapi umumnya seputar lifestyle yang pada ujungnya ada edukasi mengenai pentingnya memiliki properti atau hunian sendiri. Format seperti itu untuk mengajak secara halus dan membangun kesadaran milenial melalui tema-tema yang disukai kaum muda dengan cara story telling yang menggiring.

“Yang banyak nggak disadari milenial, untuk memenuhi kebutuhan konsumtif mereka rata-rata bisa keluar Rp3 juta per bulan. Belum untuk biaya transpor, kos, makan. Mereka juga  rela beli tiket konser yang harganya jutaan. Di sini kita masuk dengan meng-create cara bayar yang bisa dicicil mulai dari Rp3 juta, daripada hanya habis untuk konsumtif. Jadi seperti itu kampanyenya, terbukti lebih dari separuh konsumen kami dari kalangan milenial,” jelas pria yang proyeknya rata-rata berupa apartemen di kawasan Serpong, Tangerang, Banten, itu.