HousingEstate, Jakarta - Mudik merupakan kegiatan rutin tahunan di Indonesia saat lebaran tiba. Saking rutinnya, begitu banyak pemudik yang menganggap lumrah berbagai kendala yang terjadi saat musim mudik, mulai dari kemacetan, berdesakan, antri tiket, hingga muncul pameo bukan mudik namanya kalau tidak macet atau repot.

Mudik Minim Polemik

Penulis: Edo Rusyanto
Penerbit: –
Cetakan pertama: Mei 2019
Tebal: xiv+183 halaman

Berdasarkan pengalaman pribadi melakukan mudik dengan berbagai moda transportasi mulai dari sepeda motor, kereta, hingga kapal laut, Edo Rusyanto mencoba menuangkan pemikirannya dalam buku “Mudik Minim Polemik”.

Buku ini menarik karena penulis kelahiran Jakarta 1970 ini merupakan seorang wartawan aktif dan sejak lama mengampanyekan keselamatan jalan (road safety), khususnya pesepeda motor yang selalu menjadi mayoritas mengalami kecelakaan selama mudik dan di jalan raya secara umum.

Buku yang terdiri dari tiga bab besar dan beberapa sub bab ini dimulai dengan Tradisi Mudik di Indonesia, mulai dari sejarahnya hingga menjadi tradisi. Kemudian ulasan mengenai Perjalanan dan Bayang-bayang Kecelakaan yang juga memasukkan berbagai lika-liku penggunaan kendaraan, memilih angkutan umum, kemacetan, hingga kecelakaan saat mudik.

Sementara bab penutupnya lebih panjang karena mengulas mengenai Jurus Mudik Aman dan Selamat yang memaparkan tentang kebijakan pemerintah, antisipasi untuk menekan kecelakaan, hingga berbagai tips mengenai mudik sehat dan aman termasuk mudik menggunakan sepeda motor yang rawan kecelakaan itu.

Pada halaman 115 penulis juga mendorong pemerintah melalui ratusan BUMN-nya untuk meningkatkan program mudik gratis bagi berbagai kalangan. Selain menciptakan arus mudik yang lebih nyaman, program ini bisa menekan angka kecelakaan. Tradisi mudik gratis yang diselenggarakan BUMN juga mendorong pihak swasta ikut serta dengan mengglontorkan ratusan miliar untuk ikut menyelenggarakan program mudik gratis melalui program CSR-nya.

Program mudik gratis ini juga sebaiknya dikoordinasikan dengan Kementerian Perhubungan agar lebih jelas jalur maupun rute-rutenya dan menghindari overlapping. Beberapa boks pada buku ini sangat informatif yang menayangkan angka kecelakaan lalu lintas dari tahun 1998 hingga 2017 dan kecelakaan mudik dari tahun 2009-2017.

Kita juga bisa melihat perbandingan laju kecepatan rata-rata arus mudik dan arus baliknya. Kecepatan rata-rata arus mudik tahun 2018 misalnya, mencapai 72 km/jam, naik sembilan persen dari tahun 2017 yang 66 km/jam. Ini juga membuat waktu tempuh Jakarta-Surabaya berkurang dari 18 jam menjadi 12 jam (hal.15-16).

Garis besar buku ini juga sejalan dengan kebijakan Kementerian Perhubungan sebagaimana pengantar yang disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Akhirnya, penulis yang juga Ketua Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman) melalui buku ini mengajak kita semua untuk terlibat aktif menggulirkan kampanye road safety.