HousingEstate, Jakarta - Menarik mengunjungi destinasi baru di kawasan proyek LRT City Royal Sentul Park (RSP) di Jalan Raya Babakan Madang, Kadumangu, Babakan Madang, Bogor (Jawa Barat), di jalur jalan tol Jagorawi dekat pintu Sirkuit Sentul yang kelak menjadi salah stasiun kereta ringan atau light rail transit (LRT) Cibubur-Bogor.

Suasana area kuliner dengan ruang duduk terbuka

Area permainan anak

LRT City Royal Sentul Park (14,8 ha) adalah salah satu proyek properti terpadu (mixed use) PT Adhi Commuter Properti (ACP), anak usaha BUMN PT Adhi Karya Tbk, yang dikembangkan di jalur LRT Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dengan konsep transit oriented development (TOD) atau berbasis aneka transportasi umum dengan LRT sebagai lead.

Di proyek itu ACP akan mengembangkan apartemen, area komersial dan ritel, serta mal dan plaza dengan segala sarana dan prasaran pendukungnya. Pengembangan fase pertama 2,6 ha dimulai dengan satu menara apartemen, destinasi kuliner dan wisata Padi Emas dan Taman Kupu-Kupu (butterfly garden) plus 23 unit ruko tiga lantai yang menjadi bagian dari Padi Emas. Apartemennya sedang dibangun, sedangkan area kulinernya sudah menjadi destinasi yang ramai.

Deretan ruko berdesain apik karya arsitek Sardjono Sani berdampingan dengan taman

Menurut Nanang Safrudin Salim, Project Director Royal Sentul Park, pengembangan proyek mixed use dengan areal cukup luas butuh sesuatu yang bisa memancing dan menciptakan keramaian (crowded) agar kawasan lebih hidup. Konsep wisata kuliner menjadi pas melihat kawasan yang identik sebagai tempat wisata dan kuliner.

Taman kupu-kupu

“Kami buat dengan konsep nature and leisure seperti citra kawasan Bogor dan Bandung (di area ketinggian yang sejuk). Kita adakan juga berbagai event dengan tema-tema berbeda dan karnival untuk keluarga. Pengunjungnya dari Cibinong, Citeureup, Tajur, Bogor. Bagi komunitas otomotif di Bogor, bahkan sudah sangat dikenal. Cukup ramai terlebih akhir pekan,” tuturnya.

 

Pedestrian bridge

Padi Emas (2.700 m2) menampung 30 kios kuliner, menyebar mulai dari pintu gerbang, kantor marketing RSP, hingga area dalam lokasi tower apartemen pertamanya. Kios kulinernya diisi UMKM dari sekitar lokasi proyek yang menjajakan sate domba, pecel, iga bakar, dan aneka kuliner tradisional Indonesia lainnya. Saat ini area kuliner itu masih dikelola ACP dengan sistem profit sharing, karena kalau menyewa jatuhnya jadi mahal

Bagian atas jalur pedestrian yang membelah kios-kios itu dihiasi payung aneka warna. Semua kios terintegrasi dengan ruko-ruko yang sebagiannya juga telah dibuka untuk usaha kuliner, salon, refleksi, dan lain sebagainya. Diadakan juga pedestrian bridge sebagai akses ke lantai dua ruko. Dari pedestrian bridge ini kita bisa menikmati deretan payung aneka warna itu. Dengan pedestrian bridge itu, setiap ruko bisa disewakan kepada penyewa yang berbeda. Hingga saat ini penjualan ruko diklaim sudah mencapai 80 persen.

Ruko-rukonya dirancang arsitek Sardjono Sani dengan menonjolkan bentuk runcing, banyak menggunakan kaca, dan atap ditutup bitumen dengan bentuk-bentuk miring yang ekstrim. “Selain menciptakan crowded, (dengan destinasi kuliner itu) kami ingin memperlihatkan kepada investor yang membeli ruko, nanti kalau mau menyewakan rukonya, sudah ada calon tenant potensial,” jelas Nanang.

Ia sendiri mengaku kaget fasilitas yang dibuka sejak April 2018 itu mendapat respon yang tinggi dari masyarakat sekitar. Selain menikmati kuliner, berswafoto menjadi aktivitas lain pengunjung di lokasi terutama kaum milenial. Seluruh aktivitas itu bisa dilakukan sambil melihat progress pembangunan menara pertama apartemen RSP.

Untuk Taman Kupu-Kupu (3.000 m2) yang lokasinya terpisah dari Padi Emas, pengunjung yang akan masuk dikenakan tarif Rp7.000/orang. Pengadaan taman itu dilakukan ACP bekerja sama dengan agrowisata Taman Kupu-kupu Sinar Wangi Park Land di Bogor untuk penangkaran dan pengembangbiakan kupu-kupunya. Di lokasi kita bisa melihat aneka jenis kupu-kupu hingga proses menjadinya sejak masih berupa kepompong.

“Ide awalnya hanya ingin menghidupkan kawasan dengan memberikan sesuatu yang sederhana tapi berbeda dan bisa dinikmati. Kenyataannya, setiap hari tempat ini bisa didatangi rata-rata oleh 100 orang dan di akhir pekan berlipat menjadi 300. Cukup oke untuk kawasan seperti ini,” kata Nanang.

 

Topping off apartemen

Pembangunan menara pertama apartemen RSP (34 lantai/1.626 unit) sendiri saat ini telah mencapai tahap tutup atap (topping off). Penjualannya disebut sudah mencapai 500-an unit. Sejak dipasarkan pertengahan 2017, harganya diklaim sudah naik delapan kali. Saat ini tipe studio 25 m2 dipasarkan mulai dari Rp388 juta/unit atau Rp15,7 juta/m2 dari harga perdana Rp12 jutaan.