HousingEstate, Jakarta - Kendati sudah banyak material alternatif, kayu masih dianggap material alami paling favorit dan menjadi pilihan utama untuk membuat furnitur. Sifat bahan kayu yang relatif mudah dibentuk dan diolah dengan hasil akhir yang indah, membuatnya sangat digemari.

Ada beberapa jenis kayu solid (solid wood) yang lazim digunakan untuk furnitur. Mengutip siaran pers yang dikirmkan Sanie Aulia, Marketing & PR Manager Bramble Furniture (Atlanta, High Point, Las Vegas) di Jakarta, Kamis (13/6/2019), berikut ulasan beberapa jenis kayu solid untuk furnitur itu dan plus minus penggunaan solid wood.

 

Mahoni

Kayu ini merupakan jenis kayu khas daerah tropis yang memiliki warna pada bagian tengahnya yang kebanyakan merah muda. Ada juga kayu mahoni yang berwarna merah tua, sementara bagian tepi kayu berwarna putih. Kayu mahoni memiliki kualitas yang baik namun tidak disarankan untuk ditempatkan di area yang bersentuhan langsung dengan tanah karena risiko dimakan rayap dan kelembaban yang harus dijaga.

 

 

Jati

Kayu jati mempunyai lapisan minyak yang membuatnya memiliki ketahanan terhadap air sekaligus membuatnya terlihat selalu bersinar dan tahan lama, bahkan bila ditempatkan di luar ruangan pun. Kayu ini juga anti bakteri dan tidak mudah lapuk sehingga memudahkan perawatannya. Keunggulan lain dari kayu jati adalah tingkat kelunakan yang cukup tinggi sehingga mudah diukir. Kendati lunak, seratnya yang tebal membuat kayu ini juga lebih tahan terhadap benturan.

 

Sungkai

Jenis kayu sungkai umum dipakai untuk membuat furnitur di dalam ruangan karena warnanya yang terang. Corak kayu ini memiliki perpaduan antara kuning dan coklat muda yang bisa memberikan suasana segar dan cerah pada ruangan. Kayu ini juga bisa diolah menjadi veneer dengan warna dan corak yang banyak diminati pasar. Penggunaan kayu ini tidak  disarankan untuk area outdoor kecuali dengan pengolahan atau treatment khusus.

 

Pinus

Ciri khas kayu pinus, warnanya yang cerah dan seratnya yang halus. Pinus juga tergolong kayu lunak sehingga mudah diolah dan membuatnya populer digunakan untuk furnitur di dalam ruangan. Kayu ini tidak dianjurkan diletakkan di tempat lembab karena berisiko terkena jamur dan rayap.

 

Bambu

Bambu memiliki kekuatan yang memadai namun ringan dengan elastisitas yang tinggi selain ramah lingkungan. Namun jenis kayu ini memiliki kekurangan karena karakteristik tiap bambu yang berbeda-beda, sehingga membuatnya cukup sulit diolah. Detil sambungan yang cukup rumit juga membuatnya harus menggunakan teknik khusus dalam pengolahan. Furnitur berbahan bambu sebaiknya dijauhkan dari tempat lembab dan harus diberi finishing atau pelapis khusus secara rutin untuk menjauhkannya dari serangan serangga, jamur, dan rayap.

 

Oak

Kayu ini memiliki kualitas bengkokan yang baik, tahan lama, dapat di-finishing dengan baik dan tahan air. Oak tersedia dalam dua jenis: oak merah dan oak putih. Kayu ini cukup digemari karena memiliki warna yang cantik serta urat kayunya yang memiliki pola “ray flake” yang indah. Kayu ini juga cocok digunakan di luar ruang namun sebaiknya hindari dari tekanan dan benturan keras karena akan membuatnya mudah rusak.

Setelah mengetahui jenis-jenis kayu, kesimpulan terkait penggunaan solid wood adalah ketahannya yang bisa mencapai 15 tahun (tergantung kondisi cuaca dan perawatan). Solid wood juga tahan terhadap air untuk jangka waktu lama selama tidak terendam sehingga material ini menjadi pilihan terbaik untuk furnitur.

Secara tekstur solid wood memiliki keindahan yang menjadi ciri khas dan membawa kesan hangat pada ruanngan. Kayu juga memiliki kualitas yang variatif dan terukur, banyak pilihan, memiliki warna-warna alami, dan mudah dibentuk untuk berbagai macam desain yang diinginkan.

Kekurangan solid wood, perawatannya yang memerlukan treatment khusus untuk menjaga furnitur tahan lebih lama dan menghindari kerusakan. Paparan sinar matahari secara langsung dan suhu yang terlalu tinggi bisa menyebabkan kerusakan pada furnitur dari kayu solid.

Selain itu kelembaban yang terlalu tinggi juga bisa mengembangkan kayu hingga retak. Sementara kelembaban yang terlalu rendah bisa mengerutkan kayu dan menumbuhkan jamur serta serangga perusak. Kayu juga tidak tahan terhadap api dan mudah terbakar.