HousingEstate, Jakarta - Museum of Modern And Contemporary Art in Nusantara atau Museum Macan, mempersembahkan sebuah pameran tunggal yang menampilkan karya-karya dari Xu Bing, perupa kenamaan dari Tiongkok. Pameran bertajuk “Xu Bing: Thought and Method” ini akan berlangsung sepanjang 31 Agustus 2019-12 Januari 2020 di Museum Macan, AKR Tower, Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

“Xu Bing: Thought and Method” merupakan pameran retrospektif Xu Bing terbesar dan pertama di Asia Tanggara. Pameran akan menampilkan lebih dari 60 karya Xu Bing yang dibuat selama lebih dari 40 tahun. Karya-karyanya telah melintasi berbagai medium seperti drawing, seni grafis, instalasi film, dan materi arsip.

Berdasarkan siaran pers Museum Macan di Jakarta, Kamis (13/6/2019), ajang ini terselenggara atas kerja sama Museum Macan dengan UCCA Center for Contemporary Art, Beijing, tempat pameran itu pertama digelar Oktober 2018.

Xu Bing lahir di Chongging (China) dan menjadi salah satu relawan pemuda yang turun ke daerah pedesaan pada masa Revolusi Kebudayaan tahun 1970-an. Pengalaman ini telah memengaruhi cara Xu Bing melihat bagaimana bahasa dipakai sebagai salah satu alat politik. Awal tahun 1990-an ia bermigrasi ke New York, Amerika Serikat, dan kepindahannya ini juga membentuk pondasi perjalanan Xu Bing sebagai perupa.

Di awal karirnya Xu Bing mengeksplorasi dimensi budaya, bahasa, dan sistem pengetahuan tradisional. Saat tinggal di New York ia mulai mengombinasikan elemen budaya barat dan tradisional Tiongkok, juga membahas isu antar budaya. Sejak 2000-an ia banyak membahas topik-topik globalisasi, tindakan memata-matai, dan berbagai problem industri.

Xu Bing: Thought and Method menampilkan perjalanan karir Xu Bing secara menyeluruh serta metode dan motivasi di balik gagasan artistiknyaa. Beberapa karya yang akan ditampilkan antara lain Book from the Sky (1987-1991), sebuah karya instalasi masif yang dibentuk dari banyak gulungan kertas yang tingginya mencapai hampir tiga meter dan menjuntai dari langit-langit hingga lantai.

Bukan hanya itu, di kertasnya tertulis ribuan huruf rekaan Xu Bing yang terlihat seperti karakter Mandarin namun tidak memiliki arti khusus. Xu Bing sengaja menantang sistem pengetahuan umum lewat karakter huruf-huruf buatannya itu.

Kemudian Ghosts Pounding the Wall (1990-1991), sebuah instalasi berukuran 15 x 32 m dan merupakan gambaran dari Tembok Besar Tiongkok.  Square Word Calligraphy (1994-kini), sebuah sistem bahasa ciptaan Xu Bing yang lahir dari perkawinan huruf latin dan karakter yang menyerupai kaligrafi Tiongkok.

Honor and Splendar (2004), sebuah instalasi berbentuk karpet motif loreng harimau yang dibuat dari 660 ribu batang rokok. Book from the Ground (2003-kini), sebuah proyek yang menggunakan simbol-simbol universal, termasuk tanda-tanda yang sering kita lihat di ruang publik dan kumpulan emoji untuk membentuk sebuah cerita.

Xu Bing

Kemudian Dragonfly Eyes (2017), sebuah film panjang yang dirangkai dari kompilasi rekaman kamera CCTV di Tiongkok. Sejak tahun 2015 klip dari kamera pengawas di Tiongkok dapat diakses bebas oleh masyarakat dan klip inilah yang dibuat menjadi sebuah film oleh Xu Bing.

Menurut Xu Bing, untuk menjadi perupa yang baik seseorang mesti menjadi pemikir yang baik pula. Jika perupa hanya memiliki pemikiran atau filosofi yang baik, ia bisa menjadi filsuf yang hebat tapi namanya tidak akan tercatat dalam sejarah dunia seni. “Makanya perupa harus mempunyai sebuah cara artistik untuk mempresentasikan idenya, sebuah metode yang lepas dari konsep budaya yang normatif,” katanya.

Sebagai perupa Xu Bing mendapatkan reputasi globalnya lewat metode unik dalam penyajian isu yang merefleksikan kehidupan kontemporer, eksplorasi berbagai medium dari yang tradisional seperti tinta Cina, hingga yang ekspremental seperti film dan kreativitasnya dengan bahasa.

Lewat karya-karyanya yang mendunia, Xu Bing telah menjadi simbol seni kontemporer Tiongkok di mata publik global. Pada 1999 ia menerima MacArthur Fellowship atau sering disebut Hibah Genius, sebuah penghargaan bergengsi untuk warga negara Amerika yang telah berkontribusi besar di bidangnya.

Direktur Museum Macan Aaron Seeto mengatakan, Xu Bing merupakan seorang perupa global yang praktik keseniannya menggali kedalaman sejarah untuk mempelajari proses perpindahan budaya di era komunikasi lintas negara.

“Pameran ini menampilkann beberapa karya terpenting Xu Bing yang telah memaknai pengertian kita dalam kaca mata budaya, peran teknologi, bahasa, dan budaya global. Kami merasa bangga untuk pertama kalinya memperkenalkan Xu Bing untuk publik di Indonesia,” jelasnya.