HousingEstate, Jakarta - Perjalanan hidup Tri Setio Prabowo atau Tio, menarik disimak. Setamat SMA, pria asal Brebes, Jawa Tengah, ini mengadu nasib ke Jakarta menjadi pekerja serabutan. Pernah jadi kuli panggul di terminal, kuli batu, sebelum jadi office boy (OB) di kantor developer perumahan Permata Cimanggu di Bogor.
Semasa jadi OB ia sering menyimak staf marketing melayani calon pembeli. “Lama-kelamaan saya paham juga. Seperti tipe rumah, jumlah kamar, panjang dan lebar kaveling, spek bangunan, sisa lahan di bagian belakang, dan lain sebagainya,” katanya.

Satu hari tahun 1996 ia berkesempatan melayani calon pembeli sampai akhirnya terjadi transaksi. Harga rumahnya Rp72 jutaan. Selain mendapatkan komisi dari hasil penjualan itu, ia juga ditawari jadi staf marketing freelance oleh Feri Ardian, marketing managernya (MM) ketika itu. Tawaran itu langsung disambarnya. Bulan pertama ia belum berhasil menjual rumah.

“Saat gajian saya bingung kenapa tidak terima gaji. Lalu menghadap ke pimpinan menanyakannya. Saya baru tahu, marketing freelance itu hanya terima komisi, tidak terima gaji. Akhirnya untuk biaya makan sehari-hari saya dipinjami uang pribadi sama MM,” tuturnya.

Bulan kedua ia mulai berhasil menjual rumah. Bulan ketiga dan seterusnya penjualannya naik terus. Bahkan, tahun 1996 ia menjadi staf marketing dengan penjualan terbanyak. Tahun 1997 ia pun diajak pindah oleh Hadi Susilo Santoso, bos PT Kirana Surya Perkasa berkantor di Tebet (Jakarta Selatan) untuk memasarkan perumahan bersubsidi Taman Kirana Surya di Balaraja, Tangerang (Banten).

Baru setahun bergabung, terjadi krisis moneter 1997/1988 dan perusahaan melakukan PHK. Tapi Tio tidak termasuk yang di PHK. “Alhamdulillah tahun 1999 KPR subsidi sudah ada lagi, kita mulai jualan kembali. Puncaknya tahun 2000, dalam setahun saya jual 900 rumah. Tahun berikutnya 700 unit,” tutur Tio.
Namanya pun jadi bahan pembicaraan di kalangan developer perumahan bersubsidi. Banyak developer lain yang ingin membajaknya, tapi ia menolak karena ingat kebaikan bosnya selama ini. “Selain dapat komisi dari perusahaan, saya selalu dapat bonus tambahan dari kantong pribadi bos saya,” tukasnya. Ia sukses menjual rumah sebanyak itu karena rajin memasarkannya ke pabrik-pabrik.

“Saya pernah jual 300 unit hanya di satu pabrik,” ungkapnya. Bonus setiap rumah waktu itu Rp75 ribu. Setelah merasa memiliki tabungan yang cukup, tahun 2002 ia memutuskan mandiri dengan mendirikan perusahaan agen properti PT Multi Griya Propertindo. “Alhamdulillah dari usaha ini dalam setahun kami meraih keuntungan bersih Rp400 juta,” katanya. Tio pun mulai tertarik menjadi developer. Ia melirik tanah seluas 9.000 m2 di Rajeg, Pasar Kemis, Tangerang, yang di sekitarnya berdiri puluhan pabrik. Harga tanahnya ditawarkan Rp30 ribu, dia menawar Rp35 ribu dengan pembayaran enam bulan kemudian. “Pemiliknya mau,” ujarnya.

Konsumennya pun sudah ada, yaitu para pekerja pabrik di dekatnya. Hanya jalan masuknya belum dibebaskan. Setelah persoalan ini diutarakan kepada Kepala Cabang Bank BTN Tangerang yang kala itu dijabat Tony Hermato, akhirnya didapat jalan keluar. Tanah seluas 2.000 m2 itu bisa dibebaskan. Perumahan pertamanya itu dinamakan Griya Rajeg Lestari.

Untuk membangun ia bekerja sama dengan salah satu toko bangunan di dekatnya. Semua berjalan lancar dan empat bulan kemudian seluruh konsumennya sudah akad KPR. Begitu dana KPR cair, seluruh kewajiban kepada pemilik tanah, Bank BTN, dan para pemasok dilunasi. Saat tutup buku, untung bersih Rp1,8 miliar.

Setelah itu proyeknya susul menyusul dikembangkan hingga total mencapai 11 perumahan sampai sekarang, tersebar di Tangerang dan Bogor, serta satu di Jambi. Total rumah yang dibangun 3500 unit, 700 unit di antaranya rumah non subsidi. Tahun ini total asset usahanya mencapai Rp300 miliar dan sejak 2012 tidak punya utang. “Saya jadi lebih tenang mengembangkan usaha,” kata bapak empat anak ini mengakhiri perbincangan di kantornya di Jl Kebon Pedes, Tanah Sereal, Kota Bogor.