HousingEstate, Jakarta - Bisnis properti di Indonesia telah melalui perjalanan yang panjang. Bila dibagi periodenya, telah mengalami pasang surut yang cukup dinamis seiring perkembangan tren, kebutuhan pasar, dan lain-lain. Untuk situasi bisnis properti yang lesu seperti saat ini, periodenya disebut sejak tahun 2014. Artinya sebelum tahun 2014 bisnis properti kita masih mengalami peningkatan dari sisi permintaan maupun harga, baru memasuki 2014 hingga sekarang  cenderung stagnan.

Menurut Bagus Adikusumo, Senior Director of Office Services Department Colliers International Indonesia (CII), sebuah perusahaan riset, konsultan, dann manajemen properti, ada perbedaan yang mencolok untuk sektor properti sebelum 2014 hingga setelah 2014 khususnya untuk sektor perkantoran dan apartemen (high rise).

“Sebelum 2014 proyek properti khususnya yang highrise dipasarkan dengan cara jual gambar atau masih berupa brosur. Masuk tahun 2015 hingga sekarang banyak gedung-gedung yang sudah jadi dan beroperasi, sehingga persaingan saat situasi bisnis lesu seperti sekarang adalah pemasaran brosur versus ready building,” katanya kepada housingestate.id saat paparan property market up date Colliers Indonesia kuartal kedua (Q2) 2019 di Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Hal ini akhirnya juga menjadi salah satu penyebab bisnis properti terus dalam situasi lesu karena situasi kelebihan pasok (over supply) berupa banyaknya gedung-gedung yang sudah jadi namun belum terserap oleh pasar. Pengembang juga menjadi sulit, karena selain bersaing dengan proyek sejenis lain juga dengan produk yang sudah jadi dan belum laku.

Tantangan dari sisi pengembang bertambah karena untuk meluncurkan produk baru juga menjadi lebih sulit. Dari sisi konsumen, misalnya mendapatkan penawaran sebuah gedung seharga Rp30 juta/m2 yang masih under construction, bisa mendapatkan gedung dengan harga yang lebih miring dan sudah siap dioperasikan.

“Dulu developer bisa kantongin market mencapai 40-50 persen saat memperkenalkan produknya masih berupa gambar. Sekarang paling lima persen dan itu kalau tetap mau dilanjutkan harus yakin betul pasarnya siap. Makanya, kebanyakan akhirnya menunggu. Sekarang kalau ada developer yang launching proyek, biasanya reputasinya sudah bagus dan sudah kantongi captive market, atau lokasinya sangat spesifik yang di situ tidak ada suplai,” jelasnya.