HousingEstate, Jakarta - Situasi bisnis properti yang lesu sejak beberapa tahun terakhir membuat kalangan pengembang berstrategi terkait pengelolaan modal, hingga memberikan berbagai gimmick marketing supaya produk yang ditawarkan tetap menarik. Salah satu strategi yang banyak dipakai pengembang, membuat produk yang lebih kecil (downsizing) supaya  harga jualnya lebih terjangkau sehingga bisa diserap oleh segmen pasar yang lebih luas.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) DKI Jakarta Amran Nukman, tidak mudah bagi pengembang meluncurkan produk yang harganya lebih murah dari produk yang sebelumnya telah dipasarkan. Meluncurkan produk yang lebih murah diharapkan bisa menggairahkan pasar properti.

“Kenyataannya tidak bisa semudah itu, karena pasar yang sudah terbentuk dari pengembangan sebelumnya memang tidak memungkinkan untuk membuat produk yang lebih murah. Apalagi pengembangannya berskala besar dan sudah banyak konsumen yang membeli kemudian menghuni. Itu pasti tidak bisa dibuat produk yang lebih murah dari sebelumnya. Makanya paling downsizing supaya terkesan lebih murah tapi secara harga per meter persegi sama saja,” katanya kepada housingestate.id di Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Amran merinci beberapa alasan kenapa pengembang tidak bisa melakukan aksi cut loss atau memangkas keuntungan dengan melansir produk properti yang lebih murah dari sebelumnya. Selain pasar sudah terbentuk, peningkatan nilai properti kita secara umum memang ditentukan oleh kondisi pasar dan properti dalam situasi apapun dikampanyekan harganya akan terus naik. Yang paling buruk dia bertahan tapi sangat sulit untuk membuat harganya turun.

Selain itu dari sisi nilai pajak yang ditetapkan oleh pemerintah daerah (pemda) juga tidak memungkinkan harga properti bisa turun. Kebanyakan pemda menjadikan pajak dari sektor ini sebagai salah satu sumber penghasilan asli daerah (PAD) utama, sehingga kalau nilainya turun artinya penerimaan pajak juga menjadi turun.

“Jadi faktornya tidak sederhana, kecuali kalau developer mengembangkan di lokasi baru yang lahannya lebih murah, infrastrukturnya belum banyak, itu baru bisa. Terkait situasi bisnis properti yang lesu sekarang, pengembang yang memiliki modal dalam arti punya nafas lebih panjang akhirnya menunggu, karena keyakinan pasar pasti membaik apalagi di properti itu sudah biasa memang ada siklusnya. Jadi nggak mungkin cut loss, tunggu beberapa saat situasinya pasti akan membaik,” jelasnya.