HousingEstate, Jakarta - Pasar perkantoran saat ini berkembang dengan adanya pilihan coworking space sebagai ruang untuk bekerja. Dibandingkan perkantoran konvensional (traditional list), coworking space menawarkan opsi yang lebih fleksibel, karena ruang sudah disiapkan dengan berbagai fasilitasnya mulai dari meja, kursi, akses internet, fasilitas pantry, hingga tenaga resepsionis sampai office boy. Ruang yang disewa lebih kecil dan bisa dengan pilihan jam sampai bulanan.

Menurut Bagus Adikusumo, Senior Director of Office Services Department Colliers International Indonesia (CII), sebuah perusahaan konsultan, riset, dan manajemen properti, coworking space sesungguhnya bukan barang baru terlebih di luar negeri. Namun perkembangannya hingga saat ini telah membawa dinamika baru untuk sektor perkantoran di kota-kota besar.

“Di satu sisi coworking space membuat ada persaingan dengan pemilik gedung (land lord), tapi dengan situasi pasar yang sedang berlebih (over supply) untuk ruang perkantoran, konsep coworking space jadi saling mengisi. Land lord bisa mengoperasikan sendiri gedungnya sebagai coworking. Tapi, pengalamannya berbeda karena harus mengeluarkan dana lagi untuk fit out perkantoran dari yang tadinya hanya menyewakan ruang,” katanya kepada housingestate.id di Jakarta, Jumat (5/7/2019).

Di sisi lain semua kebutuhan untuk perkantoran juga tidak bisa langsung dipenuhi oleh adanya coworking space. Perkantoran traditional list tetap dibutuhkan khususnya untuk kantor pusat yang memang membutuhkan gedung di lokasi tertentu. Umumnya coworking space menjadi fasilitas tambahan penyediaan ruang guna menggarap proyek khusus, ekspansi bisnis, atau sekadar menyewa meeting room.

Setiap perusahaan juga tentunya berpikir menjadi besar dan berekspansi. Artinya, ketika awalnya menggunakan fasilitas coworking space, ketika sudah berkembang umumnya akan memindahkan kantornya ke traditional list dengan menyewa atau membeli gedung sendiri sebagai corporate headquarter.

“Dulu untuk mengisi perkantoran itu biaya fit out-nya bisa mencapai Rp5 juta/m2. Sekarang dengan adanya coworking space tidak ada lagi biaya fit out. Setiap land lord dan operator coworking space juga sudah memiliki daftar penyewa. Jadi, kalau sekarang kita melihat ini sebuah persaingan (traditional list dengan coworking space), ke depan justru akan saling melengkapi dan bersinergi,” jelas Bagus.