HousingEstate, Jakarta - Rumah tapak masih menjadi permintaan favorit di pasar properti saat ini. Sedikitnya ada 3.000 unit rumah yang terjual di semester pertama 2019 di megapolitan Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek). Permintaan rumah tapak menguat terutama pada luasan unit yang lebih kecil dengan harga yang terjangkau.

Pasar meminati rumah di kisaran harga Rp600 juta hingga Rp2 miliar per unit, berisi 2-3 kamar tidur, berada dalam fasilitas kota mandiri, dekat dengan transportasi publik, dan dibangun oleh developer bereputasi baik.

Konsultan properti Jones Lang Lasalle (JLL) mengungkapkan kecenderungan pasar tersebut dalam laporan rutin Jakarta Property Market Update untuk kwartal kedua 2019 di kantor JLL di Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Sementara aktivitas penjualan apartemen di triwulan kedua tahun 2019 ini masih belum menunjukkan peningkatan dibandingkann triwulan sebelumnya. Kondisi pasar di antaranya dipengaruhi oleh penyelenggaraan pemilihan umum, hari raya, serta masa liburan yang membuat pembelian properti tidak menjadi prioritas.

“Aktivitas pasar masih cenderung stagnan. Revisi terhadap pajak properti yang dilakukan oleh pemerintah diharapkan dapat membuat segmen atas dan luxury kembali bergairah,” ujar Vivin Harsanto, Head of Advisory JLL.

Sebelumnya, untuk properti seharga di atas Rp 10 miliar dikenai PPN 10%+PPh final 5%+PPnBM 20%+PPh 22  sebesar 5%. Kini pemerintah sudah menurunkan PPh final itu menjadi 2,5%, PPh 22 menjadi 1%, dan PPnBM hanya dikenakan terhadap properti senilai di atas Rp30 miliar.

Di luar residensial, pasar ritel disebut masih tetap stabil dengan aktifnya peritel dari sektor fashion dan F&B dengan tingkat hunian pusat perbelanjaan tetap 88 persen. Beroperasinya MRT memberikan pendekatan baru terhadap konsep ritel yang melengkapi kebutuhan pengguna MRT dengan konsep grab n go. Konsep semacam ini diharapkan dapat berkembang dengan bertambahnya rute baru MRT atau LRT.

Sedangkan di sektor ruang perkantoran, total penyerapan di triwulan kedua ini mencapai 24 ribu m2 di kawasan pusat bisnis atau CBD utama dengan perusahaan berbasis teknologi mengambil porsi 43 persen. Di kawasan non CBD penyerapan mencapai 79 ribu m2, lebih tinggi disebabkan oleh tiga gedung perkantoran yang baru selesai dan salah satunya digunakan oleh pemilik gedung. Perkembangan coworking space untuk Jakarta, JLL menyebutkan merek-merek seperti, Cohive, Gowork, dan Regus masih mendominasi.