HousingEstate, Jakarta - Perusahaan konsultan properti Knight Frank (PT Willson Properti Advisindo) melansir peta digital mengenai properti, infrastruktur, berikut aneka fasilitas publik di Jakarta, Rabu (7/8/2019). Peta dimaksudkan untuk memudahkan pebisnis melakukan investasi dalam pengembangan proyek properti. Pada tahap pertama peta mencakup wilayah megapolitan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek). Nantinya akan diperluas ke kota-kota besar lain.

“Datanya akan kita lengkapi secara bertahap dan diperbaharui sesuai perkembangan,” kata Hasan Pamudji, Senior Associate Director Knight Frank, saat memaparkan peta tersebut kepada pers. Ia menyebutkan, peta disusun sejak awal Januari 2015 menyusul fokus pemerintah membangun infrastruktur di berbagai wilayah di Indonesia. Sebelumnya Knight Frank sudah memiliki peta tersebut tapi dalam bentuk cetak yang tidak fleksibel diperbaharui dan lebih sulit dibaca.

Dalam peta digital KF Inframap yang bisa diunduh melalui situs kfmap.asia itu ditampilkan proyek-proyek properti eksisting (sudah beroperasi) berikut data rincinya, infrastruktur di dekatnya dan wilayah sekitarnya seperti jalan tol, jalur MRT dan LRT, kereta komuter, pelabuhan, dan bandara, berbagai lini transportasi umum, serta fasilitas publik yang ada di sekitarnya.

“Peta menggunakan basis Google Map. Bedanya dengan Google Map, peta digital Knight Frank disertai data rinci mengenai propertinya seperti tinggi bangunan, jumlah unit, dan lain-lain. Selain itu Google Map hanya mencantumkan properti, infrastruktur, dan fasilitas eksisting, sedangkan peta digital ini juga proyek-proyek properti, infrastruktur, dan fasilitas publik yang sedang dan akan dikembangkan,” jelasnya.

Pencarian data bisa berdasarkan subjek properti dan radiusnya, roadmap atau mode satelit, dan street view. Saat ini sudah 700 properti residensial dan 1.900 properti komersial di Jabodetabek yang terangkum dalam peta digital Knight Frank, kendati belum semua datanya lengkap. “Ini baru soft launching,” ujar Hasan.

Menurut dia, peta digital ini sangat berguna bagi bisnis properti karena membantu para pemainnya memilih lokasi, menganalisis kompetisi di pasar, serta mengetahui dukungan infratruktur dan fasilitas di sekitarnya. “Apalagi, investor asing, sangat perlu peta semacam ini untuk memahami potensi wilayah untuk pengembangan proyek properti,” katanya.

Penyusunan peta digital Knight Frank mendapat dukungan dari Henley Business School University of Reading Malaysia, yang antara lain memiliki prodi bisnis real estate. KL Chin, dosen real estate universitas itu yang hadir dalam acara peluncuran peta, menyatakan, ilmu real estate bukan hanya menyangkut soal rekayasa lahan dan bangunan tapi juga bisnis.

“Jadi yang dipelajari mulai dari teknik, bisnis dan manajemen, marketing, penilaian, sampai pembuatan feasibility study (studi kelayakan). University of Reading yang saat ini ada di empat Negara (Inggris, Afrika Selatan, China, dan Malaysia mengajarkan semua itu,” katanya. Keberadaan peta digital akan membantu proses investasi dalam real estate itu.