HousingEstate, Jakarta - Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menyatakan, pasar properti yang sudah lama tidur panjang dan berada dalam grafik yang landai selama hampir enam tahun terakhir, seharusnya akan benar-benar terbangun paling tidak di akhir 2019 atau awal tahun 2020. Bila pertumbuhan benar terjadi, pasar properti akan berlari dalam dua tahun ke depan meskipun diperkirakan kenaikan harganya tidak akan lagi setinggi seperti yang terjadi pada periode booming tahun 2009-2012.

Ia menyatakan hal itu melalui siaran pers yang diterima HousingEstate, Rabu (7/8/2019). Menurutnya, tahun 2017 IPW merilis prediksi pasar properti yang diperkirakan akan mulai berada dalam jalur recovery dan ready for take off, namun dengan catatan sangat tergantung dari seberapa besar isu politik mengganggu pasar. Dalam perjalanannya ternyata faktor politik itu terutama dalam pemilihan presiden, menyita energi yang cukup besar yang membuat pasar dalam posisi landai kembali bahkan nyaris stagnan.

Meskipun demikian, kondisi pasar properti di sebagian segmen telah mulai pulih. Segmen menengah misalnya, relatif tidak terlalu mengalami tekanan pada tahun politik. Penjualan rumah menengah seharga Rp300 juta-1 miliar di Jabodebek-Banten tahun 2018 misalnya, mengalami kenaikan 24,4 persen pada kuartal 4 dibanding kuartal sebelumnya, atau 1,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017.

Penurunan tajam terjadi di segmen harga di atas Rp 1 miliar yang jatuh 28,9 persen secara kuartalan atau 40,1 persen secara tahunan. Jadi, pasar yang kembali melandai atau bahkan stagnan terjadi lebih karena isu diluar siklus pasar properti. Pasar dalam kapasitas menunggu sampai stabilitas politik benar-benar dirasakan aman.

Proses pemilihan presiden yang berlangsung relatif aman akan membuat pasar properti akan bergerak naik kembali, segmen menengah dipastikan akan makin bergairah. Apalagi, The Fed sudah memangkas suku bunga acuannya 25 basis poin awal Agustus 2019, yang akan diikuti oleh bank sentral negara lain yang selanjutnya disusul penurunan bunga bank. Situasi ini akan memberikan angin segar bagi bisnis properti karena meningkatnya daya beli.

Faktor lain yang mendukung pemulihan pasar properti adalah pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang relatif baik yang juga akan mendorong pertumbuhan bisnis properti. Berdasarkan semua itu, IPW memperkirakan situasi pasar seperti disebutkan di awal tulisan ini.