HousingEstate, Jakarta - Hadiana, Direktur Utama PT Kreasi Prima Land, berkeyakinan semua usaha halal  pasti untung. Pasalnya, usaha atau muamalah itu perintah Allah, dan  tidak ada satu pun perintah  Allah yang memudaratkan manusia.  “Contoh,  Allah memerintahkan manusia agar sesering mungkin melakukan ibadah umrah, mengunjungi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Kenyataannya   tidak ada satu pun orang yang sering pergi umrah bangkrut asal melakukannya secara iklas. Demikian pula perintah Allah untuk bersedekah. Orang yang gemar bersedekah  tidak ada satu pun yang bangkrut asal melaksanakannya secara iklas. Yang ada justru sebaliknya, rezekinya kian berlimpah,” katanya.

Berpijak dari keyakiannya itu ia berupaya  menjalankan bisnis propertinya secara halal dengan menggunakan system syariah, yaitu berusaha tidak zalim, tidak gharar, dan tidak riba.  Tidak zalim artinya bersikap adil, tidak ada pihak lain yang dirugikan.  Misalnya  kepada konsumen, ia dan tim marketingnya berupaya memenuhi seluruh hak konsumen.  “Sejak awal kami beri-tahukan harga rumah plus seluruh biayanya secara transparan. Tidak ada informasi yang kami tutup-tutupi. Kami juga membangun rumahnya sesuai spesifikasi, luasan, dan kualitas yang dijanjikan, serta melakukan serah terima  rumah berikut sertifikatnya tepat waktu,” papar pria yang waktu SMP-SMA pernah jadi penjaga rumah dan kernet angkot di Bandung ini.

Di luar itu Hadi, demikian panggilan akrabnya, juga menyediakan fasilitas yang melebihi ketentuan pemerintah. Jika rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)   cukup menyediakan lahan kosong untuk fasilitas umum dan sosial, Sarjana Teknik Sipil itu menambahkan dengan  masjid di atasnya, bahkan ia juga mewakafkan satu unit rumah untuk Imam Masjidnya. “Apakah lantas untung perusahaan menjadi berkurang? Tidak. Kami malah bisa menggaji karyawan dengan standard yang baik, setiap tahun bisa memberikan bonus dan membagikan sebagian keuntungan perusahaan ke karyawan, bisa memberikan keuntungan ke investor yang persentasenya  jauh di atas bunga bank, bahkan perusahaan  tidak punya utang dan terus berkembang,” katanya.

Tidak gharar artinya tidak menipu, tidak berspekulasi, atau tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Jadi Hadi  hanya menjual proyeknya jika seluruh legalitas tanah dan perizinannya tuntas. Bila ia melakukan test pasar saat pengurusan legalitas dan perizinan on progress, uang tanda jadi atau booking fee yang dibayarkan konsumen, ditampung dalam rekening penampungan tersendiri. Uang di rekening tersebut akan utuh  sampai terjadi transaksi yang syah di depan notaris. “Kalau ada konsumen yang mengundurkan diri sebelum transaksi uang yang telah disetorkan akan kami kembalikan utuh,” katanya.

Tidak riba. Sejak awal ia memilih mencari investor perorangan dengan pola bagi hasil untuk modal bisnisnya.  “Investor yang bekerjasama dengan kami untung besar. Keuntungannya di atas 25 persen per tahun,” katanya. Sementara untuk bank penyalur KPR-nya ia bekerjasama dengan bank syariah.

Ayah tiga anak kelahiran Bandung, Jawa Barat, ini bersyukur dengan konsep syariah membuat proyeknya laku keras. “Perumahan Pesona Prima Cikahuripan 5 seluas 5,5 ha kami kembangkan hanya dalam tiga tahun. Tahun 2016 beli tanah, tahun 2017 mengurus legalitas tanah dan perizinan, serta mulai membangun dan memasarkan. Tahun 2018 melanjutkan pemasaran dan menuntaskan pembangunan rumah sebanyak 488 unit yang sudah sold out. Tahun 2019  pengembangan sudah selesai dan  akan kami serahkan fasos dan fasumnya ke Pemerintah Kabupaten Bagor,” paparnya.

Setelah Pesona Prima Cikahuripan 5 selesai, tahun 2019 Hadi langsung launching perumahan berikutnya yaitu Pesona Prima Cikahuripan 6 seluas 8 ha, lokasinya persis diseberangnya, yaitu di Jl Raya Cikahuripan, Klapanunggal, Kabupaten Bogor.   “Saya launching akhir bulan Ramadan lalu alhamdulillah sehari terjual 98 unit, dan sampai akhir Juni sudah laku 150 unit. Saya targetkan Desember 2019 bisa akad 280 unit, dan pada 2020 sebanyak 737 unit yang dikembangkan sudah sold out,” tegasnya.

Termasuk kedua perumahan tersebut, Hadi yang mengawali usaha sebagai kontraktor (2003-2008) dan baru mulai jadi developer tahun 2008 ini hingga sekarang sudah mengembangkan enam perumahan dengan jumlah rumah kurang lebih 2500 unit, seluruhnya rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Keempat perumahan yang dikembangkan lainnya adalah Pesona Prima Kranggan di Kranggan, Gunung Putri, Bogor. Pesona Prima Patarumah 1 dan 2, serta Pesona Prima Cipaten, ketiganya  di Kabupaten Bandung Barat.