HousingEstate, Jakarta - Sinar Mas Land (SML) membawa BSD City semakin jauh dari para kompetitornya. Sejak 2016 sudah mulai meninggalkan property development secara traditional dengan mengembangkan konsep Integrated Smart Digital City. Supaya ke depan penjualannya tidak terganggu siklus pasar properti sesuai tren yang berkembang SML merintis terbentuknya ekosistem digital yang pada saatnya nanti jika sudah berkembang bakal menciptakan kebutuhan properti, baik berupa ruang perkantoran, area komersial, hunian dalam bentuk rumah/apartemen, atau subsektor properti lainnya. Berikut petikan wawancara dengan Irvan Yasni, CEO Technology Business didampingi Irawan Harahap, Head of Digital Hub Project. Berikut petikannya.

Apa latar belakang SML menerapkan konsep Intergrated Smart Digital City atau kota pintar berbasis digital terintegrasi?

Ada beberapa hal yang menjadi background challenge kita. Pertama, di era globalisasi sekarang banyak bisnis ter-disturb. Bukan hanya di sektor financial dan IT (Information Tecnology), tapi disruption ini juga terjadi di property business dengan adanya AirBNB, the biggest hotel chain di dunia tapi tidak punya hotel. Kedua, business disruption ini karena customer berubah mindset-nya, khususnya untuk konsumen milenial.

Secara demografi pembeli produktif di Indonesia di usia milenial. Pimpinan kami, CEO Sinar Mas land (SML) Pak Michael Widjaja bilang, kita tidak bisa diam seperti ini saja, melakukan property development secara traditional. Kita mesti berubah, mesti bertransformasi bukan mengembangkan smart city cuma sekadar memasang wifi dan cctv, tapi kita harus menerapkan konsep smart city yang holistik.

Apa maksud smart city yang holistik?

Artinya begini, kebanyakan orang mungkin lihat smart city itu implementasi teknologi, sementara di kami penerapan smart city harus mencakup tiga aspek, yaitu sosial, ekonomi, dan environtment.

Di environment kami campaign green habit, sehingga tenant kami juga tahu bahwa banyak gedung-gedung di BSD City yang sudah saving energy, hemat pemakaian air, dan menekan penggunaan plastik, dan segala macam. Nah, green habit ini nanti akan mengarah kepada smart creation. Jadi tidak sekadar menggunakan teknologi tapi juga mindset harus cerdas terhadap penggunaan environment.

Kami juga mulai melakukan pembangunan sumber daya manusia (SDM). Yang namanya smart city itu kuncinya adalah talent, itu mesti ada dan talent itu mesti di-develop. Makanya BSD City itu secara sosial baik langsung maupun tidak langsung terjun dalam bidang pendidikan. Bagaimana memberdayakan masyarakat sekitar, bagaimana membuat center of exelent, makanya kita kerja sama dengan berbagai company yang melatih orang untuk bisa menghasilkan produk-produk yang sifatnya smart.

Secara ekonomi pastinya kita juga selalu memikirkan bagaimana kota ini bisa berkembang, bisa bermanfaat untuk yang tinggal di sini, yang bekerja di sini, mereka yang berinvestasi, dan perusahaan yang punya kantor di sini. Makanya fasilitas-fasilitasnya kita sediakan. Untuk penduduk kita kasih aplikasi-aplikasi yang bisa membantu mereka. Kami punya konsep: live, learn, work, play. Kami punya aplikasi OneSmile untuk memudahkan warga BSD City, cukup dari smart phone-nya masing-masing bisa melakukan transaksi misalnya, membayar tagihan PLN, air, dan IPL, beli makanan, beli tiket bIOSkop atau pertujukan di ICE, lihat informasi, transportasi, dan segala macam.

Secara korporasi juga. Kami enable-kan mereka dengan teknologi yang secara ekonomi memang dibutuhkan. Contohnya keberadaan jaringan fiber optic, mereka dapat bekerja di BSD City menggunakan high speed internet. Sekarang banyak perusahaan yang sudah tergantung dengan internet.

Traffic di BSD City juga sudah kita enable-kan dengan smart traffic. Ada beberapa sensor yang men-detect car on think, sehingga bisa katahuan kalau jalan ini macet, lalu flow kenadraannya diarahkan ke mana, dan seterusnya.

Jadi apa manfaat smart city holistik ini dalam jangka menengah-panjang?

Dengan pembangunan SDM, orang buka usaha di BSD City tidak perlu takut. Karena talent-nya ada dan sudah dididik. Orang buka usaha itu ‘kan susahnya mencari talent. Kemudian Pak Irawan Harahap (Head of Digital Hub) sedang mengembangkan Digital Hub, home for digital communities, ada R&D, butuh talent. Orang buka usaha di situ, investor buka usaha di situ, kalau tidak ada karyawannya bagimana caranya. Karena itu talent kita adakan, kita didik, kita banyak talent pool, sehingga kalau ada investor masuk kami sudah siap.

Sejauh ini sudah berapa banyak talent yang lulus?

CSR kita sudah masuk angkatan kelima. Setiap angkatan ada 700 orang. Dari Apple Academy saja tiap tahun meluluskan 200 orang, dan local professional school ada 500-700 orang. Jadi jumlah digital talent yang dihasilkan sekitar 700-1000 orang per tahun.

Irawan Harahap menambahkan: Di BSD City kami kembangkan Digital Hub sebagai tempat untuk mengembangkan digital ecosystem. Di era digitalisasi ini kita butuh talent pool, kita butuh future skill set, which is university sekarang merupakan general university, tidak meluluskan skill-skill yang dibutuhkan IOS dan Android. Sejumlah vocational school di BSD City yang meng-uprgade SDM. Tidak harus lulusan univesitas yang di-upgrade, tapi juga lulusan SMK, SMA, bahkan ibu-ibu pun ada. Kami bikin ekosistem khusus talent world class standart.

Jadi intinya, di Digital Hub ini kita buat sebagai tempat untuk penciptaan lapangan pekerjaan. Digital Hub (26 ha) ini akan dikembangkan sebagai office park, masterplan-nya dirancang oleh konsultan arisitek American NBBJ. Sebagai informasi, NBBJ ini adalah arsitek yang telah bikin Amazon Headquarter di US. Dia juga bikin Bill and Melinda Gates, bikin kantor Google, Facebook, bahkan Alibaba Campus di Cina. Jadi kita pilih arsitek yang sudah terbukti karya-karyanya sesuai dengan selera dan kebutuhan para milenial untuk bikin di BSD.

Kami menjamin koneksi internet di Digital Hub ini tidak pernah putus, kapasitasnya juga sangat besar, berapapun kebutuhan internet tersedia, dsb. Dengan demikian perusahaan-perusahaan akan banyak yang masuk, ada activity-nya, menghidupkan kota sehingga duit berputar, ekonomi berjalan.

Kami punya banyak technology services yang sudah di-enable-kan. Jadi orang berkantor di sini tidak perlu pusing mikir bagaimana bikin data center, bikin koneksi, semua tinggal pakai. Sebisa mungkin yang mau berbisnis di sini kita usahakan cuma bawa modal saja. Talent kita sediakan, infrastruktur kita sediakan, facility kita sediakan. Tinggal fit out, mau pakai apa, internet cepat, pabx, data center, semua kita sediakan.

Vocational school apa saja yang sudah ada di BSD City?

Selain Apple Academy ada Purwadhika, Binar Academy (yang punya Alamanda Santika, head developernya Gojek). Lalu ada Techpolitan, Creativenest (lebih animation center), NXL Esport, dan Esport Learning Center. Jadi konsepnya di sini, tidak hanya digital tapi dunia animasi juga kita fasilitasi.

Esport ada di BSD karena kami ingin ubah mindset orang tua bahwa main game kalau diarahkan sekarang banyak yang bisa menghasilkan uang. Di Learning Center Esport ini anak-anak diajarkan tidak cuma hard skill tapi juga soft skill. Cara mereka teamwork, setelah main game diajarkan bikin game-nya. Jadi kalau mereka sudah tua bisa bikin perusahaan sendiri bisa buat game.

Apakah ada insentif-insentif supaya perusahaan-perusahaan strat up tertarik berkantor di BSD?

Kita bikin sistem baru, kita kasih insentif macam-macam, bisa subsidi untuk fit out, subsidi rental, subsidi equipment, tergantung kapasitas start up nya dan ini semua start up, beda industrinya saja.

Diferensiasinya kami dengan competitor, setelah mereka berada di sini akan tetap kami lihat, saat mereka punya event kita support, jadi mereka tidak merasa sendirian, we throw together. Ketika kita lihat ada yang berkembang jadi gede, kita juga bisa put investment di start up ini, many thing yang bisa kasih insentif, karena nanti untungnya akan balik ke kita lagi. Jadi komitmen kami beda sama developer lain yang klaim as silicon valley.

Hingga sekarang progress pembentukan ecosystem digital ini sudah sejauh mana?

Kita mulai 2016, kita pikir ekosistem itu terbentuk at least 5 tahun, kita campaign lumayan gencar, sekarang ekosistem mulai berkembang bahkan sekarang ada beberapa perusahaan besar, universitas besar dunia juga sudah mulai melirik BSD City.

Sebelum Digital Hub jadi perusahaan-perusahaan digital communities yang sudah bergabung dengan kami kita kumpulkan di green office park, luas lantai yang dipakai total sudah hampir 20 ribu m2, termasuk tiga perusahaan coworking space, yaitu Cohive, Go Work dan Go Office. Okupansi mereka 90 persen semua.

Kembali ke aspek ekonomi, social, dan environment, bahwa BSD berkomitmen maintence yang namanya green, pokoknya masuk BSD masih dingin, masih ada kabut, meningkatkan kualitas hidup orang. Keamanan dan kenyamanannya juga tidak usah diragukan karena secara kenyamanan kota itu kita manage. Walaupun secara kasat mata mereka gak lihat, kami sudah enable beberapa klaster dengan panic button. Kalau ada apa-apa cuma tekan tombol itu petugas akan segera datang ke rumah.

Selain nyaman tinggal di BSD City juga fun karena kita sediakan aplikasi-aplikasi yang membatu mereka, misalnya untuk bayar tagihan, belanja, transportasi, dll. Nilai asset mereka juga bertambah terus seiring dengan kelengkapan fasilitas, infrastruktur, dan penerapan konsep smart city ini.