HousingEstate, Jakarta - BSD kini masuk dalam pengembangan lebih advanced menuju integrated smart digital city. Pembangunan kota cerdas berbasis internet ini untuk meladeni segmen milenial yang jumlahnya sangat besar. Lebih dari 90% generasi tersebut terkoneksi dengan internet (i-generation) dan lifestyle-nya berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka ingin bekerja secara kreatif, dapat beraktifitas dari rumah/kafe, dan mayoritas ingin punya usaha sendiri. Fenomena inilah, menurut Irvan, yang mendorong  BSD membangun ecosystem digital. “Jadi, smart city itu bukan hanya pasang IT dan CCTV, tetapi mencakup beberapa aspek,  sosial, ekonomi, dan invironment,”  terang ujar Irvan Yasni, CEO Technologi Business Sinar Mas Land.

Lingkungan hijau, banyak taman, pembangunan gedung ramah lingkungan, dan penyediaan transportasi publik yang nyaman di BSD adalah implementasi dari konsep smart digital city itu.  BSD juga mengembangkan smart traffic  yang dapat diunduh melalui aplikasi One Smile di play store.  Apilkasi tersebut untuk  mendeteksi kondisi lalulintas di seluruh kawasan BSD sehingga pengendara dapat mencari jalan alternatif bila terjadi kemacetan. Mobilitas warga semakin mudah karena tersedia BSD Link. Angkutan kawasan ini mengoneksikan klaster-klaster hunian dengan fasilitas publik di BSD, seperti AEON Mall, Kawasan Intermoda, Gyant Hypermarket.

Sistem  transportasinya makin komplit dengan adanya GrabWheels,  scooter listrik, hasil kerjasama Sinar Mas Land dengan Grab. Moda ini baru uji coba, tahap awal hanya 50 unit yang ditempatkan di The Breeze dan Green Office Park. “GrabWheels untuk transportasi jarak pendek 3-5 km, moda ini memperkuat integrasi transportasi di BSD dan bagian dari Integrated Smart Digital City.

Beberapa tahun belakangan Sinar Mas Land mengembangkan Digital Hub, proyek besar yang menjadi bagian utama dari pengembangan integrated smart digital city. Digital Hub dikembangkan di area seluas 25 ha dengan mengadopsi konsep pengembangan Silicon Valley,  Amerika Serikat.  Kawasan Digital Hub dirancang NBBJ, yakni konsultan arsitektur terkemuka dari AS yang kerap mendesain kantor perusahaan berbasis teknologi,  seperti Microsoft, Alibaba, Amazone, dan kantor pusat Samsung di Sillicon Valley-San Jose California. Menurut Irawan Harahap, Head of Digital Hub Project, di sini rencananya akan dibangun 40-50 gedung perkantoran. Tahap pertama dibangun dua gedung, Knowledge Hub (25.000 m2), masing-masing 8 dan 3 lantai untuk perkantoran dan fasilitas. Perusahaan yang ingin berkantor bisa menyewa atau membangun gedung sendiri.

Digital Hub dirancang untuk mendukung operasional dan aktivitas perusahaan teknologi digitial mulai dari start up company, technology leaders, hingga institusi pendidikan yang bergerak di bidang IT science termasuk creative technology seperti animasi, game, dan 3D.  Perusahaan yang berkantor di sini bisa langsung beroperasi tanpa harus menyiapkan infrastruktur sendiri karena semua sudah  disediakan Sinar Mas Land. Kawasan ini didukung jaringan fiber optic berkapasitas besar sehingga dapat melayani kebutuhan internet seluruh tenant. Beberapa sekolah IT sudah beroperasi, antara lain Apple Academy, Techpolitan, Binar Academy, Creative Nest, dan Purwadhika Startup & Coding.

Beberapa  vocational school itu setiap tahun menghasilkan sekitar 1.000 tenaga terampil di bidang IT.  Apple Academy yang khusus mencetak developer untuk aplikasi dengan sistem operasi berbasis iOS mencetak 200 talenta yang dididik secara gratis selama satu tahun. Para tenaga terampil tersebut akan mengisi kebutuhan industri 4,0 di kawasan BSD maupun di luar yang jumlahnya cukup besar. Menurut Irvan, Indonesia membutuhkan sekitar 600 ribu digital talent  per tahun.