HousingEstate, Jakarta - Tempat istirahat dan pelayanan (TIP) atau rest area di jalan tol akan dikembangkan memiliki fungsi yang lebih luas sehingga berdampak lebih besar terhadap ekonomi lokal dan kawasan. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah mengkaji penerapannya.

“Selama ini rest area secara umum fungsinya hanya melayani pengguna jalan tol beristirahat sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan. Ke depan fungsinya akan kita perluas dan dinamakan fasilitas publik di koridor jalan tol dengan merevisi Peraturan Menteri PUPR Nomor 10 Tahun 2018 tentang Tempat Istirahat dan Pelayanan Pada Jalan Tol,” kata Danang Parikesit, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR, melalui siaran pers di Jakarta, Senin (9/9/2019).

Ia merinci, ada empat konsep pengembangan rest area yang saat ini tengah dikaji BPJT melibatkan stakeholder lain, dengan target bisa diselesaikan tahun ini sehingga tahun depan sudah bisa diterapkan dengan menarik investor.

Konsep pertama rest area sebagai destinasi wisata di ruas tol yang memiliki pemandangan indah (scenic road). Untuk konsep ini dibutuhkan lahan lebih dari 6 ha dan sudah ada permintaan dari Pemprov Jawa Tengah untuk jalan tol di Ambarawa yang disodetkan (ditambah akses) ke destinasi wisata Rawa Pening.

Kedua, rest area yang menjadi kawasan transit antar moda angkutan umum untuk mendukung kebutuhan bus-bus seperti di jalur tol Trans Jawa. Nantinya setelah diturunkan di kawasan rest area, para penumpang bus akan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan lain yang akan mendistribusikannya ke tujuan sekitarnya. Contohnya sudah ada dengan bus Trans Jawa Jakarta-Probolinggo, penumpang yang tidak sampai Probolinggo bisa turun di rest area dan melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi yang lain.

Ketiga, rest area sebagai logistic hub dengan banyaknya pengembang yang membangun kawasan pergudangan di sepanjang jalan nasional dan berminat juga mengembangkan kawasan pergudangan yang terkoneksi dengan jalan tol. Konsep seperti ini sudah banyak diterapkan di negara maju seperti Amerika dan Jerman.

Terakhir akan dikembangkan juga jalan tol yang terintegrasi dengan kawasan industri yang akan memberikan bangkitan ekonomi yang lebih besar. Usulan ini datang dari PT Hutama Karya yang membangun jalan tol Trans Sumatera agar investasi jalan tol satu paket tidak hanya jaringan jalan tol tapi juga pengembangan kawasan-kawasan sekitarnya.

“Kami juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mematangkan empat konsep pengembangan rest area itu, supaya benar-benar memiliki dampak perekonomian yang lebih besar bagi masyarakat di sekitar jalan tol. Hingga pertengahan 2019, jalan tol Trans Jawa panjangnya mencapai 1.000 km dan yang sudah operasional 996 km dengan 78 unit rest area. Untuk tol Trans Sumatera panjangnya 503 km dan yang sudah operasional 281 km dengan 18 rest area. Jadi potensinya memang cukup besar,” jelas Danang.