HousingEstate, Jakarta - Koridor timur Jakarta yang mencakup Bekasi, Cikarang, hingga Karawang selama ini terkesan lebih sebagai kawasan industri yang menampung ribuan manufaktur dengan jutaan pekerja. Akibatnya, pengembangan properti yang lebih menengah ke atas berikut aneka fasilitasnya menjadi kurang bergairah, disbanding properti menengah ke bawah baik taak (landed) maupun vertikal (high rise).

Padahal selain industri, sejak dekade terakhir banyak developer proyek properti di koridor itu yang mengembangkan kawasan-kawasan industri itu juga mengembangkan hunian, komersial, properti komersial, fasilitas rekreasi, kesehatan, pendidikan, hingga  hingga kawasan bisnis untuk kalangan yang lebih menengah ke atas itu. Prospeknya pun dinilai menjanjikan karena basis ekonomi wilayah yang kuat dan dukungan infrastruktur yang kuat terutama akses transportasi.

Untuk mengubah kesan yang kurang tepat sekaligus mengangkat lebih tinggi prospek koridor timur Jakarta itu, enam perusahaan pengembang besar berbagai proyek di Bekasi hingga Cikarang membentuk sebuah konsorsium bernama Komite Koridor Timur Jakarta. Yaitu, pengembang Summarecon Bekasi, Summarecon Emerald Karawang, Kota Jababeka, Lippo Cikarang, Vasanta Innopark, Pollux Properties, dan PP Properti.

Para anggota komite ini akan mengintegrasikan berbagai keunggulan dari proyek masing-masing developer, dengan melakukan kegiatan marketing dan branding yang lebih terintegrasi, talkshow-exhibition bersama, hingga pengembangan proyek bersama. Ini merupakan inisiasi kerja sama yang akan terus dikembangkan dan membuka pintu untuk menampung developer lain yang ingin bergabung dalam komite.

“Komite Koridor Timur Jakarta ini berawal dari pertemuan hingga tukar pikiran antara para pengembang. Kita semua menyadari ada potensi yang besar walaupun juga ada tantangan yang harus kita hadapi (di koridor timur Jakarta). Namun, secara umum masih banyak pihak yang belum paham atau masih sedikit menyerap informasi terkait potensi di timur ini. Dengan bersama seperti ini kita juga berharap bisa mendorong pemerintah (membantu mempromosikan), karena ada begitu banyak potensi di sini yang belum tergarap,” kata Sutedja S. Darmono, Direktur PT Jababeka Tbk, saat penandatanganan kerja sama dengan enam pengembang di Jakarta, Selasa (1/10/2019).

Koridor timur Jakarta terutama Bekasi, Cikarang, hingga Karawang disebut menjadi wilayah penting perekonomian Indonesia dengan nilai produk domestik bruto (PDB) mencapai Rp14,8 triliun tahun 2018 atau tumbuh 5,17 persen dibandingkan 2017. Setidaknya 60 persen aktivitas perekonomian nasional disumbang dari koridor itu, yang 70 persennya diklaim terpusat di Bekasi-Cikarang.

Pengembangan real estate di koridor timur itu telah mencapai area seluas 10 ribu ha dan telah dilengkapi dengan berbagai aset properti selain industri seperti pusat bisnis, lifestyle, pendidikan, kesehatan, destinasi hunian, dan lain sebagainya. Untuk anggota komite ini saja dari Jababeka luas pengembangannya (termasuk kawasan industry) mencapai 5.600 ha, Lippo Cikarang 3.400 ha, Summarecon Bekasi 240 ha, Vasanta Innopark 100 ha, Pollux Properties Indonesia 45 ha, dan PP Properti 28 ha.

Albert Luhur, Executive Director PT Summarecon Agung Tbk, menambahkan, Summarecon telah memiliki enam proyek berskala kota atau township, terbanyak di megapolitan Jabodetabek, dan dua di antaranya berada di koridor timur di Bekasi dan Kawarang. “Kita berada di antara dua kota besar Jakarta dan Bandung dengan pengembangan infrastruktur yang akan membuat aksesibilitas kawasan makin mudah. Itu yang akan membuat koridor ini makin berkembang dan residensial beserta ikutannya pasti menjadi sebuah kebutuhan. Makanya dengan komite ini kita bisa integrasikan semua itu,” jelasnya.