HousingEstate, Jakarta - Pikko Group dan Wijaya Wisesa Group melalui PT Bangun Inti Artha mengembangkan apartemen Defontein (5.100 m2/1 menara/110 unit) di Jalan Raya Menteng, Jakarta Pusat, yang dikenal sebagai perumahan taman pertama di Indonesia sekaligus kawasan permukiman paling elite sampai saat ini. Kota Taman Menteng didesain arsitek Belanda dengan rumah-rumah bergaya kolonial. Developernya juga perusahaan developer Belanda.

Karena itu untuk menyesuaikan dengan aura kawasan, beberapa apartemen seperti Defontein juga dikembangkan dengan desain bernuansa kolonial, paling tidak desain interior unit-unit huniannya. Jumlah huniannya juga sangat terbatas, hanya 110 unit dilengkapi private lift. Jadi, eksklusif untuk kaum high end.  Tipe unitnya dua kamar tidur (KT) berukuran 87–114 m2 dan tiga kamar tidur (KT) seluas 141–148 m2.

Dalam rilis pers yang diterima HousingEstate, Selasa (8/10/2019), harga unitnya tidak disebutkan. Tapi di situs rumah.com dan rumahdijual.com minggu kedua Oktober 2019, unit apartemen Defontein ditawarkan seharga Rp50–60 jutaan/m2. Tidak disebutkan juga kapan apartemen mulai dibangun dan akan diserah-terimakan.

Seperti terlihat pada show unit-nya, hunian di Defontein dirancang bergaya klasik kolonial dengan sentuhan modern oleh SHS & Associate, mengacu ke sejarah Menteng sebagai kawasan heritage dari era kolonial. “Konsep dasarnya revitalisasi dan adaptasi untuk mengembalikan (suasana hunian) ke bentuk asli hunian (di Menteng). Yaitu, konsep kolonial klasik yang merupakan perpaduan budaya Barat dan Timur dengan kreasi artistik yang elegan,” kata Sammy Hendramianto Syamsulhadi, Chairman SHS & Associate, melalui rilis itu.

Ia membagi desain unit apartemen mewah ini dalam dua tema. Yaitu, modern klasik di unit 3 KT yang ditunjukkan melalui dominasi warna putih yang merupakan identitas konsep klasik kolonial, diperkaya dengan dekorasi profil yang khas pada dinding dan tiangnya. “Desain interior klasik kolonial identik dengan nuansa dekoratif dengan ornamen-ornamen historis. Gaya ini memiliki kesan menarik dengan tampilan megah,” jelasnya.

Sedangkan tipe 2 KT didesain modern kontemporer dengan sentuhan profilan di dinding disertai pengurangan dominasi warna putih. Persamaan desain kedua tipe terletak pada penekanan, the windows is the king. Yaitu, sarana memandang keluar dan penghubung antar-ruang yang dibangun lebih lebar dan lebih tinggi. “Jadi, nanti jendela dan pintu unit apartemen dibuat lebar-lebar dan tinggi yang menimbulkan kesan lapang,” ujar alumni ITB itu.

Lantai dan beberapa bagian dinding unit apartemen dilapisi marmer putih Carrara asal Italia yang berkilau, guna mencuatkan kesan berkelas, mewah, prestisius, sekaligus nyaman bagi kaum atas yang akan menjadi penghuninya. Di masa lalu rumah-rumah yang dibangun di Nieuw Gondangdia (Menteng) juga ditujukan untuk kalangan atas penguasa kolonial. Karena itu rumah-rumahnya berukuran serba besar.

Untuk makin menguatkan kesan mewah yang klasik dengan sentuhan modern itu, penerangan di unit apartemen menggunakan lampu gantung didukung furnitur dari material kayu berdesain simpel simetris. “Desain klasik kolonial itu abadi sehingga banyak disukai. Kita banyak menjumpai desain seperti itu di Eropa. Kita padu dengan modern kontemporer sebagai desain yang serba up to date,” tutur Sammy.