HousingEstate, Jakarta - Saat ekonomi dan bisnis global dan nasional tidak terlalu menyenangkan hati, pertumbuhan ekonomi digital justru melonjak lima tahun terakhir. Hal itu diperkirakan terus berlanjut mendisrupsi bisnis dan gaya hidup, tak terkecuali di Asia Tenggara dengan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi dan populasi terbesar.

Perkembangan pesat ekonomi digital itu cepat atau lambat akan mempengaruhi juga bisnis properti yang sekian tahun terakhir juga lesu. Karena itu para pelaku bisnis properti perlu memahami lebih mendalam ekonomi digital itu agar tetap bisa bertahan dan bersaing dalam suasana bisnis yang baru itu.

Demikian Anton Sitorus, Director, Head of Research & Consultancy Savills Indonesia, perusahaan konsultan properti internasional yang berkantor pusat di London (Inggris), saat memaparkan makalah “Masa Depan Bisnis Properti dalam Era Ekonomi Digital” kepada pers di Jakarta, Rabu (23/10/2019), bersamaan dengan pemaparan Great Jakarta Property Up Date Q3 2019. Dalam pemaparan itu disebutkan subsektor perkantoran dan ritel di Jakarta dan sekitarnya mulai membaik kendati belum signifikan.

Ilustrasi

Ilustrasi

Penyerapan (net take up) ruang kantor di kawasan pusat bisnis (CBD) misalnya, sampai kwartal tiga 2019 mencapai 124 ribu meter persegi (m2) atau hampir sama dengan  net take up sepanjang 2018, dengan ruang tak tersewa (vacancy) mencapai 25 persen dari total pasok yang 6,6 juta m2. Penurunan tarif sewa yang menjadi strategi utama developer menaikkan tingkat isian gedung kantornya juga sudah mereda, bahkan mulai naik sedikit. Saat ini tarif sewa rata-ratanya Rp203 ribu/m2.

Begitu pula pusat belanja, tidak banyak pasok baru yang masuk, sehingga vacancy-nya menurun dan net take up sampai kwartal tiga 2019 lebih tinggi daripada 2017. Yang masih tertekan subsektor apartemen strata dengan sales rate rata-rata hanya 62 persen. “Penjualan apartemen di Jakarta misalnya, sampai kwartal tiga hanya 1.300 unit dibanding 2.000 unit sepanjang tahun 2018,” kata Anton.

 

Melihat jangka panjang

Karena kondisinya secara umum masih seperti sebelum-sebelumnya, Savills mengajak para pelaku bisnis properti untuk melihat lebih jangka panjang, terkait perkembangan pesat ekonomi digital yang mengubah proses dan cara berbisnis serta gaya hidup masyarakat itu. “Apalagi, Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang pertumbuhan ekonomi digitalnya paling fenomenal,” kata Anton.

Mengutip hasil survei Google-Temasek-Bain beberapa waktu lalu, potensi pasar ekonomi digital Indonesia yang mencakup sektor e-commerce, online media, travel, dan transportasi meningkat lima kali lipat dari USD8 miliar tahun 2015 menjadi USD40 miliar (2019) dan diperkirakan menjadi USD130 miliar atau IDR1.900 triliun tahun 2025. Fenomena ekonomi digital itu sangat kontras dengan kondisi bisnis konvensional yang dibayang-bayangi pertumbuhan ekonomi global yang lambat.

“Bisnis properti juga tidak bisa menghindari disrupsi ekonomi digital itu. Saat ini saja kita sudah melihat berbagai model bisnis baru yang menyaingi perusahaan properti konvensional, dengan konsep berbagi atau sharing economy sebagai basisnya,” jelas Anton.

Konsep sharing economy dari pengaruh konektifitas dan interaksi di dunia maya itu menggeser pandangan konsumen atas konsep kepemilikan. Makin banyak orang yang merasa tidak terlalu perlu memiliki aset fisik seperti properti, sejauh bisa menikmati atau memanfaatkannya melalui skema sewa, pinjam, nebeng, urunan, dan lain-lain. Dari situ muncul bisnis seperti co-working, co-living, co-warehousing, co-ownership, fintech, dan lain-lain yang memicu banyak perusahaan rintisan (start up) menggarapnya.

Savills mengkategorikan perusahan berkonsep sharing economy itu ke dalam empat kelompok: shared space seperti WeWork, CoHive, dan Spacelabs, financing seperti iFunding, Kickstarter, dan Gradana, marketing seperti Homie dan 99.co, serta rental lodging seperti  AirBnB, OYO, dan Travelio.

“Melihat kinerja sejumlah start up itu, terlihat prospek bisnis sharing economy di sektor properti terbuka luas,” kata Rosaline Lie, Senior Director, Retail Services di Savills Indonesia, dalam makalah yang disampaikan Anton. Inilah yang harus diperhatikan developer dan investor properti tradisional agar tetap mampu bertahan dan bersaing di tengah derasnya arus perkembangan ekonomi digital itu.

 

Pemulihan pasar secara struktural 

Misalnya, konsep sharing economy di sektor properti membuka peluang perorangan menawarkan aset propertinya ke pasar untuk dibeli, dijual, disewakan, dijadikan tempat kos, dikelola, dibiayai, dan lain-lain, bekerja sama dengan berbagai perusahaan start up itu. Hal yang sama bisa dilakukan pengembang untuk unit-unit propertinya. “Intinya, pengembang harus mau berkolaborasi, bukan menganggap start up-start up itu sebagai kompetitor, apalagi berusaha menyaingi mereka dengan membentuk start up serupa,” ujar Anton.

Melalui makalah yang sama, Craig Williams, Managing Director Savills Indonesia, mengatakan, developer perlu lebih jeli membaca permintaan pasar ke depan dan kreatif membuat perencanaan produk dan strategi penjualan sesuai dengan perkembangan pesat ekonomi digital itu.

Sejumlah gagasan yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan properti di masa depan antara lain, fokus ke jenis properti yang high value, segmen pasar investor, konsep beyond property, produk yang mengadopsi teknologi pintar, serta produk dengan efisiensi tinggi namun menawarkan kenyamanan yang tinggi pula.

Sementara untuk memulihkan kelesuan pasar saat ini, Anton berpendapat, perlu terobosan pengembang melakukan market recovery secara struktural. Salah satunya dengan melakukan koreksi harga yang sudah terlalu tinggi akibat kenaikan yang tajam selama 2009-2012. “Mungkin pengembang perlu melakukan flash sale atau fire sale untuk menarik minat konsumen supaya pasar kembali marak dan bergairah. Flash sale atau fire sale yang sebenarnya, bukan hanya gimmick,” katanya.