HousingEstate, Jakarta - Sudah memiliki rumah sendiri sejak muda itu penting sekali. Orang tidak mungkin nebeng atau menyewa rumah sampai tua dan tidak aktif lagi bekerja. Hal itu dikatakan Ka Jit, Executive Vice President, Head of Strategy & Innovation, Strategy & Innovation Group Bank OCBC NISP, saat berbicara dalam bincang-bincang pasca jumpa pers dan peresmian penyelenggaraan Festival “Tidak Ada Yang Tidak Bisa (TAYTB)” di Jakarta, Rabu (30/10/2019).

TAYTB Fest diadakan OCBC NISP sepanjang 31 Oktober-4 November 2019 di Tribrata Darmawangsa, Jakarta Selatan, sebagai bagian dari bulan literasi keuangan untuk membantu kalangan muda lebih melek keuangan, mampu mengelola keuangan dengan baik dan mau berinvestasi untuk masa depan sejak dini dengan menabung, membeli rumah, atau bentuk investasi lainnya.

Supaya menarik kalangan muda mendatanginya, festival diadakan secara kekinian dan inovatif dengan menghadirkan instalasi-instalasi dan booth-booth yang instagramable selain stand-stand peserta dari kalangan developer properti, produk kuliner, dan lain-lain. Festival juga menghadirkan berbagai acara menarik termasuk panggung musik, Omah fair, bazaar, konsultasi perbankan, serta 70 tokoh inspirastif dalam 40 kelas seminar selama empat hari itu.

“Festival menggabungkan eduksi keuangan dengan cara yang menyenangkan dan inspiratif guna mendorong kaum muda lebih melek keuangan,” kata Direktur OCBC NISP Mirah Wiryoatmodjo yang membuka jumpa pers dan meresmikan festival bersama direksi lain dan Sondang Samosir, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Bincang-bincang menghadirkan juga Rio Dewanto (aktor) dan Dennis Adhiswara (aktor, produser, dan sutradara) sebagai brand ambassador OCBC NISP. Menurut Ka Jit, rumah adalah investasi jangka panjang terbaik karena nilainya selalu tumbuh dua digit atau di atas inflasi. Jadi, selain penting sebagai tempat tinggal, rumah juga sangat perlu sebagai investasi. Orang tidak mungkin selamanya nebeng atau menyewa rumah. “Karena itu KPR disebut utang produktif, karena dipakai membiayai pemilikan rumah yang merupakan tempat tinggal sekaligus investasi,” katanya.

 

Aplikasi JITU

Pendapat senada diutarakan Okie Imanto, CEO Greenwoods Group, pengembang sejumlah townhouse dan apartemen di Jabodetabek, Yogyakarta, dan luar negeri, yang awal November ini melakukan soft launching aplikasi indonesiajitu.com (JITU) melalui PT Langsung Dapat Kredit (LDK). Jitu adalah aplikasi yang membantu memudahkan pembeli rumah mendapatkan KPR secara online. Caranya dengan membalik paradigma pengajuan KPR, dari “cari rumah dulu baru minta KPR ke bank” menjadi “pastikan dulu kemampuan mencicil, baru pilih rumah yang cocok dan mengajukan KPR”. JITU membantu memastikan kemampuan mencicil calon debitur sekaligus menyajikan informasi hunian di berbagai lokasi yang bisa dipilih sesuai kemampuan finansial tersebut.

Okie Imanto, CEO Greenwoods Group (ketiga dari kiri) bersama manajemen JITU (foto: Susilo Waluyo/HousingEstate).

Greenwoods ikut menjadi sponsor TAYTB Fest karena momentumnya tepat dan kebetulan OCBC NISP menjadi salah satu bank pertama yang menjalin kerjasama dengan JITU selain Bank Panin, CIMB Niaga, Bank BTN, dan lain-lain. “Saat ini sudah 15 bank yang bekerja sama dengan JITU. Yang delapan sudah (meneken) PKS (perjanjian kerja sama), sisanya tinggal proses penandatanganan,” ungkap Kemal Alamsyah, CEO LDK.

Okie sependapat dengan Ka Jit. Rumah merupakan investasi jangka panjang terbaik selain sebagai tempat tinggal. Karena itu setiap orang harus berupaya memilikinya sejak dini. “Suatu saat anda akan menua dan pensiun. Apa mungkin saat itu anda tetap nebeng atau masih pindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain? Selain itu rumah juga legasi yang memberikan kepuasan batin kepada seseorang pada masa tua. Bahkan, menjelang usia 40 tahun dan anak-anak mulai besar, anda sudah sulit nebeng terus di rumah orang tua atau masih ngontrak rumah,” tuturnya.

Karena itu baik Ka Jit, Okie, maupun dua duta merek OCBC NISP itu sangat menganjurkan kaum muda menyisihkan sebagian penghasilannya sejak mulai bekerja untuk berinvestasi dalam berbagai instrumen. Salah satu yang paling mudah adalah rumah. Caranya, sisihkan penghasilan untuk uang muka, setelah cukup terkumpul, langsung realisasikan untuk membeli rumah dengan kredit pemilikan rumah (KPR) dari bank.

“Prinsipnya, jangan berinvestasi atau menabung dari sisa penghasilan, tapi sisihkan sejak awal sekian persen dari penghasilan untuk tabungan atau investasi, baru belanjakan sisanya. Untuk itu masukkan semua penghasilan ke tabungan dan biarkan bank mendebit langsung setiap bulan sekian persen untuk tabungan yang sulit ditarik,” kata Sondang.