HousingEstate, Jakarta - Viro, merek serat sintetis dari bahan ecofaux untuk desain arsitektur dan interior, kembali bekerja sama dengan pematung Joko Avianto menghadirkan instalasi seni “Kendaraan Langit” menggunakan material inovatif serupa rotan tersebut, dalam Festival Pesona Lokal yang diselenggarakan  Adira Finance di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, 16 November 2019.

Festival Pesona Lokal mempromosikan berbagai kesenian, budaya, parawisata, dan kuliner dari berbagai daerah. Sebelumnya festival serupa diadakan di Bandung, Surabaya, Medan, dan lain-lain yang termasuk dalam area pelayanan Adira.

Joko Avianto adalah pematung yang antara lain terkenal dengan karya instalasi dari bambu bertajuk “Getih Getah” yang ditempatkan di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta, sebelum dibongkar atas perintah Gubernur Jakarta Anies Baswedan beberapa bulan lalu.

Kendaraan Langit berdimensi 6 (panjang) x 2 (lebar) x 3 (tinggi) meter yang dapat menampung hingga empat orang dewasa dengan berat total 250 kg. Sebelumnya PT Polymindo Permata, perusahaan pemilik merek Viro, sudah berkolaborasi dengan Joko membangun instalasi seni “Clouds” dalam pameran CASA Indonesia 2019 di Jakarta.

Menurut Johan Yang, Executive Vice President Polymindo Permata, melalui siaran pers di Jakarta, akhir pekan lalu, instalasi seni itu merupakan salah satu bentuk upaya  memperkenalkan bahan bangunan alternatif eco faux yang lebih tahan lama, tahan cuaca, mirip serat alami, dan dapat didaur ulang. “Instalasi Kendaraan Langit ini menunjukkan keseriusan Viro merambah bisnis seni instalasi khususnya yang berada di luar ruang,” katanya.

Sementara Joko melalui rilis yang sama menyatakan, Kendaraan Langit menampilkan konsep awan sebagai lambang dunia atas sekaligus menggambarkan dunia yang luas, bebas, dinamis, dan mempunyai makna transendental. “Kendaraan Langit terinspirasi dari Paksi Naga Liman, kereta kencana milik Keraton Kanoman di Cirebon yang banyak digunakan para raja dalam menghadiri upacara kebesaran. Desain kereta itu kemudian dilebur dengan bentuk awan Megamendung yang juga berasal dari Cirebon,” jelasnya.