HousingEstate, Jakarta - Kepergian DR.Ir. Ciputra meninggalkan sejumlah kenangan yang mendalam. Bagi dunia properti, Ciputra adalah ikon pengembang sukses yang menjadi panutan banyak developer lain. Sejumlah proyek properti monumental berhasil diciptakannya melalui empat grup usahanya: Jaya Group, Metropolitan Group, Metropolitan Land, Ciputra Group.

Pria kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931, ini juga berhasil membawa keempat grup usahanya tersebut go public. Konsisten dan fokus menjadi kunci sukses Ciputra dalam menjalankan roda bisnisnya. Ciputra yang kental dengan semangat entrepreneurship selalu menekankan untuk cakap mencari peluang, inovatif, dan berani mengambil risiko.

Sempat goyah selama krisis moneter (krismon) 1998–1999 seperti konglomerasi bisnis lain di Indonesia, setelah itu Ciputra berhasil melajukan kembali semua grup usahanya dengan baik. Bahkan, setelah krismon sebagian grup usaha terutama Ciputra Group sangat ekspansif bukan hanya di Indonesia (mengikuti otonomi daerah), tapi juga ke luar negeri (mengikuti globalisasi).

Karena konsistensi dan dedikasinya selama lebih dari 50 tahun dalam bisnis properti itu, Ciputra berkembang dari nama seorang konglomerat properti menjadi merek dagang terpercaya dan disegani yang menjadi acuan orang. Belum terlihat pebisnis lain yang melebihi kalibernya dalam bisnis properti sampai hari ini. Ia juga berhasil mendidik anak-menantunya menjadi pengusaha seperti dirinya. Sekarang pengelolaan Ciputra Group yang dibaginya ke dalam tiga sub holding besar itu sudah diserahkan kepada enam anak-menantu tersebut.

Atas prestasi dan konsistensinya di bisnis Properti, pada 2013 lalu Housing Estate sempat mengganjarnya dengan penghargaan “Begawan Properti” yang diberikan dalam rangkaian HousingEstate Favourite Residential Awards dan Green Property Awards 2013 di Jakarta.

Selain bisnis properti, Ciputra juga sukses menggeluti bisnis media massa. Ciputra adalah salah satu pendiri majalah Tempo. Ia melalui Yayasan Jaya Raya bersama Goenawan Mohamad dan Fikri Jufri mendirikan PT Grafiti Pers yang menaungi sejumlah penerbitan media. Sekarang Tempo sudah berkembang menjadi Koran tempo dan lain-lain.

Tidak hanya media umum seperti Tempo yang majalahnya tercatat masih yang terbesar dan paling prestisius sampai hari ini, ada juga grup media lain di bawah arahan Ciputra seperti tabloid Bintang, tabloid Bintang Home, Home Magazine, tabloid Aura, dan Fantasi. Lima media terakhir disebutkan, diberhentikan versi cetaknya dan beralih ke online.

Ciputra juga tercatat sebagai komisaris di PT Jurnalindo Aksara Grafika (JAG), penerbit harian Bisnis Indonesia. Khusus untuk media berbasis properti, Ciputra juga andil dalam penerbitan majalah Properti Indonesia tahun 1994.

Selain berbisnis Ciputra juga mencintai seni, seperti fanatismenya terhadap karya lukis Hendra Gunawan, pelukis yang pernah ditahan rezim Orde Baru selama 13 tahun (1965–1978) tanpa pernah diadili, hanya karena pada zaman Bung Karno pernah menjadi anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).

Saat orang lain tidak berani mengoleksi karya Hendra setelah sang maestro keluar dari penjara, Ciputra melakukannya. Pendirian Ciputra Artpreneur yang antara lain menampilkan karya-karya Hendra juga dilatarbelakangi oleh persahabatan dan penghormatannya terhadap Hendra. Pada Agustus 2018 Ciputra secara khusus menggelar pameran lukisan “Hendra Gunawan, Prisoner of Hope” di Ciputra Artpreneur, Jakarta, untuk merayakan 100 tahun Hendra Gunawan (1918-2018).

Saking cintanya terhadap lukisan Hendra, Ciputra juga membuat patung sculpture di berbagai proyek dan kantor perusahaannya dari karya-karya lukis Hendra itu, dibantu pematung Munir dan lain-lain. Di Jakarta kita bisa melihatnya antara lain di halaman Ciputra World Jakarta, kawasamn pusat bisnis Jalan Prof Dr Satrio, Jakarta Selatan.