HousingEstate, Jakarta -

Peringatan bagi konsumen dan investor di sektor properti khususnya ruko. Harga ruko saat ini sudah sangat tinggi tapi kalau disewakan sebaliknya. Menurut Sekjen Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) DKI Jakarta, Jimmy Handoko, hal ini terjadi karena pergeseran motif. Dulu konsumen membeli properti untuk dihuni atau dipakai sendiri, sekarang menjadi instrumen investasi.

Karena dipakai sendiri perkembangan harganya normal tidak melonjak gila-gilaan seperti sekarang. Ketika disewakan pemiliknya masih mendapatkan harga sewa bagus. “Sekarang orang membeli ruko  umumnya untuk investasi atau disewakan, (akibatnya) harganya menjadi sangat mahal tapi ketika disewakan murah,” katanya.

Sinyalemen Jimmy sesuai hukum supply & demand. Pasok yang jauh melebihi permintaan membuat harga sewanya tertekan. Pengembangnya sendiri memanfaatkan  euforia orang berinvestasi di sektor properti dengan menggelontorkan produknya ke pasar. Walhasil yang terjadi seperti sinyalemen Jimmy, ruko habis terjual tapi yang buka hanya sebagian kecil. Pemandangan seperti ini ada di sejumlah kawasan Jabodetabek, salah satunya di Serpong, Tangerang.

Jimmy mengatakan, lonjakan harga yang cukup tinggi bukan semata didorong faktor orang berinvestasi. Harga tanah yang cukup mahal dan peningkatan kualitas bahan bangunan menjadi sebab lain meroketnya harga ruko. Agar harga sewanya terangkat ia menyarankan agar membeli dua ruko kemudian digabungkan. “Bisnis itu terus berkembang sehingga kebutuhan ruangnya makin besar. Kalau sebelumnya cukup dengan ruko selebar 5-6 meter karena berkembang dia butuh yang 8-10 meter,” katanya. Yudis