Perubahan Pola Belanja Ancam Pasar Ruang Ritel Hong Kong
Pelancong asal China daratan begitu penting untuk pasar ritel Hong Kong, karena jumlahnya yang terus bertumbuh secara konsisten. Menurut data terakhir Sekretariat Perdagangan dan Pembangunan Ekonomi, Hong Kong, jumlah pelancong ini akan tumbuh 30%, menjadi sebanyak 70 juta pada tahun 2017 dan mencapai 100 juta pada tahun 2023.
Namun, pola belanja mereka kini berubah. Jika sebelumnya para pelancong asal China ini datang untuk belanja barang-barang mewah, kini sasarannya barang-barang kelas menengah. Bahkan kebutuhan harian pun, seperti kosmetik dan produk personal care, mereka cari ke Hong Kong. Hal ini terkait adanya kebijakan pemerintah China yang membatasi hidup dalam kemewahan, sehingga berdampak pada berkurangnya konsumsi barang mewah. Demikian menurut Joanne Lee, Manager of Research and Advisory Services, Colliers International Hong Kong.
Lee juga menjelaskan, bahwa untuk mencari barang-barang mewah, kalangan berduit China daratan kini lebih memilih untuk pergi ke luar negeri. Tujuannya untuk langsung mendapatkan limited edition dengan segera. Selain itu mereka juga mulai gandrung dengan gaya hidup belanja online. “Hal-hal itu bisa mengancam perjalanan ke Hong Kong untuk berbelanja,” ucap Lee.
Di lain pihak, imbuh Lee, penyewa ruang ritel juga menghadapi risiko lain. Yaitu berkurangnya variasi elemen ritel di distrik perbelanjaan utama di Hong Kong, menyusul mundurnya beberapa pengecer lokal dan restoran. Itu terjadi karena tarif sewa toko yang terus meningkat, serta kesenjangan yang makin lebar antara pertumbuhan penjualan ritel dan ruang ritel.
Untuk itu, Colliers menyarankan agar pasar ruang ritel Hong Kong harus membangun kebijakan baru terkait dengan infrastruktur dan membangun keunikan merek lokal. Contohnya menyediakan fasilitas belanja di Lok Ma Chau, salah satu daerah yang memiliki arus penumpang (kendaraan umum) harian tertinggi. Ayu
(sumber: Colliers International – Hong Kong)
