Rusun Cegah Konversi Lahan Pertanian Jadi Perumahan
Gencarnya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan pemukiman maupun industri, menurut Ambo Ala, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Hasanudin, Makassar (Sulawesi Selatan), di satu sisi merupakan bencana bagi sektor pertanian namun di sisi lain menjadi berkah bagi pengusaha properti. Kedua sektor sama-sama membutuhkan lahan dan juga sama-sama penting, karena itu harus dipilih mana yang lebih mungkin untuk dikembangkan ke atas, apakah pertanian atau hunian.
“Kenyataannya perumahan yang lebih memungkinkan dibangun vertikal, makanya harus kita dukung,” katanya kepada housing-estate.com saat acara diskusi rumah susun (rusun) sebagai solusi penyediaan perumahan perkotaan di Jakarta awal minggu ini.
Menurut Ambo, melalui UU No. 41/2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan, pemerintah sebetulnya telah mewajibkan setiap daerah menyediakan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Sayangnya, hingga saat ini belum ada satu daerah pun yang menaati.
“Lahan pertanian 1 ha mungkin harganya hanya Rp1 miliar, tapi begitu ada pengembang masuk dan dikonversi menjadi perumahan, uang Rp1 miliar itu hanya dapat 1 kaveling. Siapa yang nggak tergoda?” ujarnya. Akibatnya dalam satu tahun kita kehilangan 1.400 ha lahan sawah dengan kerugian mencapai Rp7 triliun.
Ambo memberikan contoh bagaimana pemerintah Korea Selatan melindungi lahan untuk menjaga ketersediaan lahan produktif pertaniannya. Di sana petani yang mau menjual tanah sawahnya harus melapor ke pemerintah, nanti pemerintah yang mengatur penjualannya. Intinya sawah tersebut harus dijual kembali kepada orang lain yang mau mengelolanya sebagai sawah dan tidak diubah peruntukannya.
Senada dengan Ambo, Menpera Djan Faridz, pada kesempatan yang berbeda juga mengatakan bahwa kerugian akibat alih fungsi lahan pertanian untuk permukiman ini besar sekali. Pasalnya, pemerintah telah mengeluarkan investasi triliunan rupiah untuk membangun bendungan, normalisasi sungai, dan membuat saluran irigasi untuk mengalirkan air ke sawah-sawah.
Makanya supaya suplai pangan kita tidak terganggu, baik Ambo maupun Djan Faridz, sepakat mulai sekarang masyarakat sudah harus dibiasakan tinggal di rumah susun. “Kalau kita mau menatap masa depan yang cerah, kita tidak boleh anti tinggal di rusun,” kata Ambo. Yudis
