Isu Kenaikan Harga BBM Pengarui Pasar Properti
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) selalu diikuti tertekannya kondisi pasar properti. Konsumen akan bereaksi negatif dengan menahan diri atau menunda berbelanja properti karena kenaikan harga BBM tersebut selalu diikuti melonjaknya harga jual. Isunya pada November mendatang pemerintahan baru Joko Widodo-Yusuf Kalla akan menaikkan harga BBM Rp3 ribu/liter.
Menurut sejumlah pengembang kenaikan harga BBM ini akan menaikkan harga properti minimal 15 persen. Menurut Hyronimus Yohanes, GM Marketing PT Hasana Damai Putra, pengembang Kota Harapan Indah (KHI), Bekasi, kenaikan itu tidak dapat dihindari karena harga semua bahan bangunan ikut naik. “Paling tinggi kenaikannya besi,” katanya kepada housing-estate.com di Jakarta, pekan lalu.
Isu ini direspon pasar secara beragam. Di beberapa perumahan penjualannya langsung meningkat karena konsumen mempercepat pembelian sebelum harganya naik. KHI termasuk yang penjualannya melonjak tajam. Awal Agustus lalu KHI melego 47 rumah dalam satu minggu. Kondisi itu masih bertahan hingga sekarang. Kendati tidak dapat memastikan apakah itu pengaruh langsung dari rencana kenaikan harga BBM, menurut Hyronimus, orang-orang yang punya rencana beli terdorong segera mengambil keputusan.
Di Grand Depok City (300 ha), Depok, Jawa Barat, pengaruh itu tampak dari keinginan sejumlah konsumen yang bersedia membayar dulu meskipun clusternya belum diluncurkan. “Ada empat atau lima orang yang bayar dulu, padahal clusternya belum diluncurkan dan pembangunannya mungkin baru dua tahun lagi,” ujar Tony Hartono, GM Marketing SMR Group, pengembang Grand Depok City (GDC).
Selain isu BBM, kenaikan penjualan GDC yang terjadi sejak Agustus lalu juga pengaruh dari kondisi politik. “Sebelumnya penjualan kita turun 20-30 persen karena pengaruh BI Rate dan pemilihan presiden. Sekarang kita rebound, konsumen yang sebelumnya menunda akhirnya pada beli,” imbuhnya. Pras
