HousingEstate, Jakarta - Rencana reklamasi Teluk Jakarta menjadi salah satu solusi terbatasnya lahan komersial di Jakarta. Pengurukan laut itu diperkirakan akan menghasilkan 1.200 – 4.000 ha lahan baru. Di sini kelak akan dibangun hunian, perkantoran, komersial, resor, dan tempat rekreasi keluarga. Proyek reklamasi Teluk Jakarta merupakan bagian dari Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN) atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).

Menurut  Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Poernama (Ahok), NCICD akan dikembangkan dalam tiga tahap. Tahap pertama akan dilakukan penguatan dan peninggian tanggul, serta pemasangan stasiun pompa dengan investasi 1,9 miliar dollar AS.  Tahap pertama ini disebut juga pembangunan tanggul tipe A sepanjang 32 Km. Tahap kedua atau tipe B, mencakup pembangunan tanggul laut sisi luar dan pelaksanaan reklamasi.

Kegiatan tahap dua akan dimulai tahun 2018-2022. Untuk tahap pertama (tipe A) pembangunannya dimulai Kamis (9/10) ditandai pemasangan tiang pancang. Peresmiannya akan dilakukan Pemprov DKI dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. “Pemasangan tiang pancang (ground breaking)  akan dimulai di sisi timur Waduk Pluit (Jakarta Utara),” ujar Basuki kepada wartawan di Balaikota, Jakarta, Selasa (7/10).

Megaproyek ini, kata Basuki, diharapkan selesai keseluruhannya pada tahun 2030.

Selain reklamasi, pada tahap kedua akan dimulai pembangunan jalan tol laut (Tangerang-Bekasi), pembangunan stasiun pompa, pintu air, pemindahan jaringan pipa, dan restorasi hutan bakau (mangrove). Tahap ini biayanya diperkirakan mencapai 4,8 miliar dollar AS.

Tahap ketiga adalah pembangunan tanggul luar di sisi timur Jakarta. Tapi pembangunan tahap tiga sampai sekarang belum final. Tim masih mengkaji tentang perlu tidaknya membangun sisi timur karena penurunan muka tanah di kawasan timur relatif lambat. Sungai-sungai utama di daerah ini juga masih bisa mengalir dengan lancar.