HousingEstate, Jakarta - Asosiasi Realestat Indonesia (REI), salah satu wadah para pengembang properti, mengaku sejak program sejuta rumah dicanangkan April lalu sudah  membangun rumah murah sebanyak 50 ribu unit. Menurut Ketua Umum REI, Eddy Hussy,  kalangan anggota REI rata-rata membangun 10 -15 ribu unit rumah per bulan.

“Semuanya tergantung harga karena untuk membangun rumah murah harganya dipatok pemerintah. Menurut kami harga tersebut sangat rendah khususnya untuk beberapa lokasi yang harga lahannya sudah mahal. Karena itu sebaiknya patokan harga ini bisa direvisi disesuaikan dengan kondiri di lapangan,” ujar Eddy pada acara penandatanganan MOU antara REI dengan Kementerian Dalam Negeri dan Bank BTN di Jakarta, Selasa (9/6).

Rumah sebanyak 50 ribu ini  dinilai Eddy  sebagai pencapaian luar biasa karena dibangun di tengah keterbatasan dan hambatan regulasi yang masih banyak terjadi di berbagai daerah. Kendati demikian REI tidak mau menunggu dan berkomitmen untuk membangun sebanyak-banyaknya rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Eddy tidak mau bicara banyak mengenai kendala yang dihadapi pengembang karena masalahnya klasik dan kerap disampaikan. Ia berharap seluruh stakeholder bisa bersinergi sehingga pembangunan rumah murah berjalan lebih cepat.

“Kalau pemerintah pusat, pemerintah daerah, perbankan, dan pengembang bekerja sama pasti bisa jalan. Kalau semuanya sudah mendukung, kami yakin bisa membangun lebih banyak lagi rumah murah,” tandasnya.