HousingEstate, Jakarta - Pembangunan rumah murah dan menengah bawah di Depok, Jawa Barat, menghadapi masalah serius. Selain harga tanah yang semakin mahal pengembang terkendala regulasi pemerintah setempat. Sesuai Perda No. 13/2013 rumah yang dibangun di Depok Tiga luas tanahnya minimal 120 meter persegi. Aturan ini bertujuan agar ruang terbuka di Depok tetap terpelihara, tersedia resapan, dan tetap asri.

Menurut Ronald Wihardja, Managing Director PT Megapolitan Development Tbk, pengembang sejumlah proyek properti di Cinere, Depok, regulasi ini menutup pembangunan rumah menengah bawah. Sebab, dengan harga tanah yang sudah cukup tinggi pengembang tidak mungkin lagi membangun rumah di bawah Rp400 juta. Ia menyebutkan harga tanah di sejumlah lokasi seperti Sawangan dan Citayam berkisar Rp1-3 juta per meter persegi.

“Jadi untuk tanahnya saja sudah Rp250 juta, belum bangunannya, bagaimana mau membangun rumah murah. Kalau di wilayah yang lebih dekat ke Jakarta seperti di Cinere, harga tanahnya bisa di atas Rp5 juta, itu makin nggak mungkin lagi,” ujar Ronald di Depok, pekan lalu.

Persoalan ini, kata Ronald, perlu segera dicarikan jalan keluarnya. Bila Perda ini dipertahankan pengembang tidak mugkin membangun rumah untuk kalangan pekerja bergaji di bawah Rp4 juta. Setidaknya Pemkot Depok menyiapkan kantong-kantong yang memungkinkan dibangun rumah. “Kalau tidak  masyarakat yang mencari rumah murah harus bergeser ke wilayah yang lebih jauh misalnya di koridor Parung, wilayah Bogor,” imbuhnya.