HousingEstate, Jakarta - Cara pembayaran bertahap kepada pengembang atau installment kini banyak yang menawarkan. Cara ini menjadi solusi konsumen yang enggan menggunakan KPR dari bank, entah karena problem uang muka atau persyaratan yang rumit. Sementara bagi pengembang installment juga jadi jawaban jitu terhadap kebijakan BI yang melarang perbankan memberi KPR kedua kepada konsumen apabila rumahnya belum jadi (inden). Angsuran bertahap umumnya 2-3 tahun (24 – 36 bulan) sesuai dengan lamanya pembangunan rumah. Kini sejalan dengan tertekannya perekonomian nasional dan kian sengitnya persaingan mulai banyak yang menawarkan installment hingga 60 bulan (5 tahun).

Kendati simpel cara pembayaran seperti ini ada konsekwensinya, yaitu soal keamanan bertransaksi. Berbeda dengan membeli dengan KPR yang legalitasnya diverifikasi dan disimpan di bank, pembelian  tunai bertahap tidak demikian. Pengembang memang menjamin transaksinya aman dan tidak ada niat untuk wanprestasi atau lari dari tanggung jawab.

Seperti perumahan Algita 8 Riverview dan Algira Townhouse di Bogor, menurut staf pemasarannya, rumah yang dipasarkan sertipikatnya sudah pecah semua. Sertipikat tersebut setelah bertransaksi akan disimpan oleh notaris yang ditunjuk, tidak dipegang pengembang. “Jadi, legalitasnya ada dan aman karena disimpan notaris,” katanya kepada housing-estate.com, Sabtu (23/7).

Jika soal legalitas dianggap tidak ada masalah konsumen harus menghitung dengan cermat besarnya angsuran bulanan. Sebab, dalam menentukan harga pengembang juga memasukkan faktor bunga. Bisa jadi faktor bunganya sama dengan bank, tapi bukan tidak mungkin lebih mahal.

Misalnya Algira Riverview Cilebut, Bogor, tipe 36/72 dibandrol Rp415 juta (tunai). Di sini konsumen tidak bisa membeli dengan KPR dari bank karena pengembangnya menghindari riba. Sebagai gantinya ia menawarkan tunai bertahap selama 5 tahun. Tipe yang sama untuk cicilan 5 tahun harganya Rp750 juta. Uang mukanya 30 persen sisanya diangsur flat 60 kali (5 tahun).  Jika dikonversi dengan bunga angkanya cukup tinggi 16 persen per tahun. Sementara bunga pasar KPR saat ini rata-rata 12 persen.

Developer lain yang memasarkan tunai bertahap dan tidak mengklaim secara syariah umumnya didukung bank. Karena syaratnya lebih longgar, tidak seperti pengajuan KPR, pengembang diminta oleh bank memberi buy back guarantee. Pengembang akan membeli kembali rumahnya apabila terjadi sesuatu dengan konsumen. Karena di belakangnya ada bank harganya selisih harga tunai dengan angsuran bertahap biasanya sesuai dengan bunga bank.