Senin, Januari 12, 2026
HomeBerita PropertiBukan Belanja Online, Inilah Penyebab Mall Sepi Pengunjung

Bukan Belanja Online, Inilah Penyebab Mall Sepi Pengunjung

Makin berkembangnya e-commerce atau belanja online ditengarai sebagian pihak sebagai penyebab sepinya pusat belanja dan mall-mall di Jakarta, selain makin banyaknya pembangunan sentra-sentra belanja di wilayah pinggiran, ditambah kondisi lalu lintas yang kian macet.

mall-jakarta-sepi-pengunjung

Pengaruh belanja online itu diakui Ketua Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey kepada HousingEstate di Jakarta beberapa waktu lalu, tapi dampaknya tidak signifikan. “Online itu globalisasi atau keniscayaan yang mengubah perilaku belanja konsumen. Mereka belanja secukupnya, sisanya belanja di online. Tapi dampaknya tidak signifikan. Dua tahun terakhir belanja online hanya berdampak 1-2 persen terhadap penurunan toko ritel,” katanya di Jakarta, Senin (7/8).

Pendapat itu sejalan dengan laporan perusahaan konsultan properti seperti Colliers International Indonesia yang menyebutkan, tingkat kekosongan pusat perbelanjaan di Jakarta pada kwartal II 2017 hanya turun tipis dari 14.1% menjadi 13,9%. Jadi, apa penyebab turunnya penjualan ritel dan sepinya banyak pusat belanja itu?

Menurut Roy, meledaknya jumlah penduduk usia produktif dibanding yang berusia mapanlah penyebab utamanya. Pasalnya, pertumbuhan pesat jumlah kaum milenial yang umumnya berpendidikan tinggi itu, tidak diimbangi dengan penyerapan tenaga kerja formal yang memadai. “Pasar kerja formal belum bisa menyerap penduduk berusia 21 sampai 40 tahun itu. Jadi daya belinya rendah dan tidak bisa belanja dalam nilai besar. Gimana nggak rendah, wong lulus sarjana cuma buka warkop, jadi telemarketers, agen asuransi dan sejenisnya,” terangnya.

Karena itu Roy berharap pemerintah bekerja keras membuka lapangan kerja formal untuk kaum muda yang jumlahnya akan meledak tahun 2028–2030 itu. Saat itu akan ada 210 juta penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang disebut sebagai bonus demografi, dengan 50% di antaranya kaum muda. “Kalau pemerintah bisa membuka lapangan kerja untuk mereka, tenaga muda itu akan memiliki penghasilan yang baik dan konsumsi meningkat,” kata Associate Director Corporate & Government Relation Multipolar Corp itu.

Berita Terkait

Ekonomi

Menkeu Akan Tarik Utang Lebih Banyak untuk Biaya APBN 2026

Defisit APBN 2025 sebesar 2,92 persen dari Produk Domestik...

Kadin Paparkan Agenda Internasional yang Bisa Dorong Perekonomian Indonesia

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyiapkan empat agenda...

8,34 Juta Warga RI Melancong ke Luar Negeri Selama Januari-November 2025

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pekan lalu, jumlah perjalanan...

Kabinet Terlalu Gemuk, Makanya Defisit APBN Membengkak

Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mencapai...

Berita Terkini