HousingEstate, Jakarta - Ada pepatah bisnis bilang, jika tidak bisa mengalahkan, dibeli saja. Inilah strategi baru yang diterapkan bisnis perhotelan belakangan ini agar bisa ikut menikmati keuntungan dari tren baru: berbagi keuntungan (sharing economy) dan berbagi kamar (room sharing) ala airbnb. Kenapa bisnis ala airbnb dianggap ancaman?

Hasil studi Morgan Stanley tahun lalu bisa menjawabnya. Disebutkan studi itu, pada akhir tahun 2017 sekitar 25 persen pelancong dan 23 persen perjalanan bisnis akan menggunakan Airbnb, lalu 49 persen pengguna Airbnb sebelumnya memesan akomodasi di jaringan hotel standar.

Itulah yang kemudian mendorong jaringan hotel internasional Hyatt sejak Agustus lalu masuk ke Oasis, jasa room sharing internasional berbasis jaringan anggota. Sebuah jasa layanan pesan kamar mirip airbnb tapi menyasar kelas atas. Didirikan di Buenos Aires (Argentina) tahun 2009, Oasis kini sudah bekerja sama dengan lebih dari 2.000 pemilik properti di 22 kota di seluruh dunia. Dengan kerjasama ini, properti Oasis bisa dilihat dan dipesan di situs Hyat, di kanal Unbound Collection, kanal khusus jaringan hotel butik yang menyasar kaum millenial.

Masuknya investasi Hyatt ke Oasis, menurut Parkes Stanberry, pendiri dan CEO Oasis, ibarat anugerah kecil tapi penting. Kedua belah pihak dapat saling memanfaatkan jaringan keanggotaannya dan bersama bisa memberi layanan yang lebih baik, terutama untuk klien korporasi.

Dicontohkan, bagi pelancong bisnis yang biasa menggunakan jaringan Hyatt, jika harus menyewa dalam jangka panjang, sekarang tidak saja bisa memilih kamar hotel tapi juga apartemen tiga kamar di lebih banyak kota.

Aliansi ini juga memberi kesempatan bagi pelanggan Hyatt yang memang berasal dari kalangan berduit, yang selama ini enggan menyewa kamar ala room sharing untuk mencoba. Toh memberikan layanan yang sekelas. Yakin pelanggan Hyatt bisa menerima, tahun depan Oasis akan terintegrasi dengan Hyatt loyalty program.

Stanberry menyebut kerja sama ini konvergensi. Hyatt tetap bisa fokus pada pasarnya, yaitu konsumen kelas atas yang bisa memberi layanan lengkap khas bisnis perhotelan. Tapi juga bisa mengadopsi kelincahan bisnis kompetitornya, yaitu jasa room sharing. Dengan demikian dalam pengembangan diri, operator hotel berjaringan tidak perlu banyak berinvestasi untuk riset pasar, misalnya.

Seperti yang sudah dilakukan jaringan Marriott. Untuk mengantisipasi perkembangan bisnis ala airbnb, kini juga mengembangkan aplikasi pemesanan lewat gawai, layanan personal dan pelayan khusus.

Menurut Bjorn Hanson, profesor bisnis perhotelan dari New York University, Amerika Serikat, kolaborasi di industri ini yang menawarkan dua model binsis yang berbeda seharusnya memang bisa dilakukan.

“Aliansi, bermitra dan investasi seperti yang dilakukan Wyndham di Unique Ventures, memperlihatkan kalau kedua model bisnis tersebut bisa bekerja sama, bukan saling mematikan,” ujarnya. Pola-pola tersebut seharusnya dilihat sebagai upaya membuat perusahaan yang lebih baru dan kuat.

Sumber: CNBC