HousingEstate, Jakarta - Makin membanjirnya investasi asing dalam bisnis properti di Indonesia tidak perlu dicemaskan pengembang di Indonesia, karena umumnya mereka menggarap pasar menengah atas dan mewah atau properti komersial seperti menara perkantoran dan mall. Hal itu dikatakan Head of Research & Consultancy Anton Sitorus dalam jumpa pers menjelang penyelenggaraan Savills Property Leaders Dialogue di Jakarta, Senin (1/11). Savills adalah perusahaan konsultan properti global yang berbasis di London (Inggris).

“Jadi, investor asing tidak akan bersaing (head to head) dengan developer lokal, walaupun memang ada beberapa dari mereka yang mengembangkan perumahan dan apartemen untuk kalangan menengah,” katanya.

Kendati demikian pengembang domestik menilai makin banyaknya developer asing yang masuk ke Indonesia tetap perlu menjadi perhatian supaya developer Indonesia tidak kalah bersaing di negeri sendiri. “Kedatangan investor asing itu ada plus minusnya bagi kita,” kata Artadinata Djangkar, Direktur Ciputra Group, salah satu grup usaha properti terbesar di Indonesia, dalam diskusi Savills Property Leaders Dialogue.

Ia berbicara bersama CEO Lippo Group James T Riady, Direktur Utama PT PP Properti Tbk Taufik Hidayat, CEO PT KG Global Development Harry Gunawan, CEO Gunungsewu Group Husodo Angkosubroto, dan CEO Strategic Development and Services Sinar Mas Land (SML) Ishak Chandra. Sebelum diskusi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memberikan keynote speech.

Menurut Artadinata, kelebihan developer asing terletak dalam efisiensi kerjanya yang tinggi sehingga dengan kualitas produk yang kurang lebih sama, harga propertinya bisa lebih rendah. “Kita juga punya proyek di China. Yang mengerjakan kontraktor lokal yang bukan tergolong perusahaan besar. Itu kerjanya sangat cepat dan efisien,” ujarnya.

Kelebihan lain developer asing, mereka berani mengambil margin keuntungan yang lebih kecil. Selain itu mereka didukung modal dengan biaya dana (cost of fund) yang sangat rendah, karena yang masuk ke Indonesia umumnya perusahaan-perusahaan besar dan raksasa dengan modal sangat kuat di negara asalnya.

“Yang terakhir ini paling penting jadi perhatian developer Indonesia karena kita sangat sulit menyainginya. Karena itu ke depan funding strategy menjadi penting dengan misalnya mencoba mencari sumber-sumber dana alternatif yang lebih murah untuk pengembangan proyek untuk mengimbanginya,” katanya.

Di pihak lain developer Indonesia juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki developer asing. Yaitu, lebih mengenal pasar dan punya akses tanah yang lebih bagus. “Developer asing umumnya mendapatkan tanah untuk proyeknya dengan membeli di proyek-proyek yang dikembangkan developer Indonesia, sulit untuk bisa langsung membeli ke pemilik tanah mentah,” jelasnya.

Terakhir yang juga menjadi nilai plus developer domestik, adanya proteksi UU Ketenagakerjaan yang tidak mengizinkan pekerja asing level menengah ke bawah bebas masuk ke Indonesia.  “Kalau para pekerja kontruksi dari China misalnya, dibebaskan masuk ke Indonesia membangun proyek properti yang dikembangkan perusahaan dari negara mereka, habis kita,” kata Artadinata.