HousingEstate, Jakarta - Kita pernah mengalami booming properti sepanjang tahun 2010-2013 yang ditandai dengan kenaikan harga yang meloncat-loncat mencapai ratusan persen dalam beberapa tahun, karena pemilik duit (investor/kolektor) demikian antusias membeli. Mereka berebut memesan properti seperti memesan makanan. Sebagian bahkan memesan beberapa unit sekaligus.

“Belum pernah terjadi booming properti dengan kenaikan harga setinggi itu dalam sejarah Indonesia,” kata Ishak Chandra, seorang eksekutif properti kawakan yang sekarang menjadi developer. Semua berharap keuntungan instan dan cepat dari properti yang dibeli, dengan menjualnya lagi beberapa bulan kemudian saat proyeknya masih terus dipasarkan dan baru akan mulai dibangun.

Sekarang setelah pasar meredup sejak akhir 2013 karena pecahnya gelembung (bubble) peningkatan harga gila-gilaan itu, ditambah kebijakan Bank Indonesia yang mencekik penyaluran kredit properti, dan pesatnya revolusi teknologi informasi, booming properti seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi.

“Kenaikan harga properti gila-gilaan seperti itu tidak akan terjadi lagi. Dan, situasi itu ada bagusnya,” kata Agung Salladin, Direktur Utama PT Wika Realty Tbk, anak usaha BUMN PT Wijaya Karya Tbk yang menggarap bisnis properti, kepada housing-estate.com saat perkenalan proyek apartemen Tamansari Skyhive besutan Wika Realty-Medialand di Jakarta akhir pekan lalu.

“Sekarang kenaikan nilai properti lebih riil, lebih sesuai dengan nilai pasarnya dibandingkan dulu (yang kenaikannya lebih) karena gorengan dan (sikap) emosional (kolektor). Pengembang dan konsumen sekarang lebih realistis,” lanjutnya. Ia menambahkan, ada juga pengaruh eksternal seperti situasi ekonomi global dan politik dalam negeri yang membuat kelesuan pasar properti kali ini lebih panjang.

“Jadi, pengembang harus ekstra hati-hati meluncurkan proyek atau produk baru (dalam situasi seperti sekarang). Sementara konsumen bersikap wait and see,” jelasnya. Agung sendiri yakin tahun depan situasi pasar akan lebih baik selepas hajatan Pilpres. Orang mulai lebih berani berinvestasi dan membelanjakan uangnya untuk properti.

Karena itu ia berpendapat, sekarang saat yang tepat bagi end user (yang membeli properti untuk dihuni sendiri) dan kolektor membeli properti, karena harga sedang berada di titik terendah dan bunga bank belum dinaikkan. “Tahun depan situasi (pasar) akan mulai naik. Beberapa aktivitas bisnis kami juga akan lebih banyak tahun depan,” tuturnya. Wika Realty sudah mengembangkan puluhan proyek di berbagai kota sejak lebih dari tiga windu lalu.

close
GRATIS | Majalah HousingEstate #191 Edisi Juli 2020