HousingEstate, Jakarta - Arsitektur identik dengan bangunan, sementara pohon identik dengan alam. Bagi arsitek, kedua hal tersebut menjadi sebuah kelumrahan dalam dunia perancangan dewasa ini. Pemahaman akan pengertian arsitektur dan alam yang kurang mendasar mungkin menjadi penyebab munculnya solusi perancangan yang hanya berputar di situ-situ saja, tidak mengurangi masalah yang ada. Kegelisahan para arsitek muda menanggapi persoalan tersebut ditampilkan dalam pameran arsitektur inception series #4 bertajuk “Kutak Katik Hijau”.

Sebuah eksplorasi ruang hijau di perkotaa

Pameran yang menjadi rangkaian kegiatan menuju Jakarta Architecture Triennale 2018 ini dilangsungkan di Kopi Kalyan, Jakarta, 21-31 Oktober 2018. Ditampilkan enam karya arsitek yang mengangkat eksplorasi ruang hijau di perkotaan. Di antaranya, Andi Pratama dari ANDParsitek, Erick Budhi dan Budiarti Prananingrum dari BE Studio Indonesia, Farrizky Astrawinata dan Priyanto dari moreids architect, Noerhadi dari studio rdma, Romadhona Daud dan Kusneri Prasetiani dari StudioRK, serta arsitek dan urban designer Sigit Kusumawijaya.

Seperti dalam pameran inception series sebelumnya, panel-panel gambar arsitektural tidak hanya disajikan secara teknis, tapi juga diterjemahkan ke dalam gambar seni grafis. Berikut tiga karya yang berfokus pada rancangan rumah tinggal yang ditampilkan dalam pameran tersebut.

 

Rumah 5.5

Arsitek: ANDParsitek, Jakarta

Berlokasi di Jagakarsa, Jakarta Selatan, proyek rumah ini berada di lahan terbatas yang hanya memiliki lebar 5,5 meter. Proyek menceritakan peran arsitektur dalam menyumbangkan penghijauan di kota Jakarta yang dapat mereduksi panas dan polusi udara. Strategi desain yang diterapkan dengan membuat bangunan yang mampu bernafas dan tetap mewadahi kebutuhan penghuni di lahan yang sempit.

Rumah dirancang dengan menciptakan ruang-ruang terbuka di dalam bangunan yang dapat menciptakan kesan luas serta mengoptimalkan sirkulasi udara alamiah. Ruang terbuka dijadikan penghijauan termasuk juga penerapan roof garden pada atap yang ditanami pohon-pohon sebagai salah satu strategi desain dalam berkontribusi terhadap penghijauan kota pada lahan terbatas. Dinding luar yang berongga dan disertai tanaman rambat pada fasad bangunan, mampu menyaring udara segar yang akan masuk ke dalam rumah dan membantu terjadinya sirkulasi udara secara alami.

 

Rumah Apit Ecohouse

Arsitek: BE Studio Indonesia, Jakarta

Rumah tinggal di atas lahan seluas 130 m2 ini berlokasi di Jakarta Selatan yang cukup adem. Program utamanya dua kamar tidur, dua kamar mandi, dapur serta teras besar yang berfungsi sebagai ruang multifungsi. Keinginan klien lainnya adalah, seluruh ruang harus mendapatkan cahaya matahari, pengudaraan alami, dan tidak ingin menggunakan AC. Peraturan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 30 persen yang berlaku ditepati dengan strategi desain membuat teras besar yang menjadi penghubung antar-ruang.

Massa bangunan juga dipecah menjadi dua agar panjang bangunan menjadi semakin tipis dan orientasi bukaan ke utara-selatan. Pengaturan tersebut menghasilkan ruang antara yang dapat menjadi ruang tumbuhnya pohon serta bisa mengoptimalkan masuknya sinar matahari ke seluruh ruang. Penggunaan skylight di atas area kamar mandi menghasilkan penetrasi cahaya ke area yang sebenarnya masuk kategori “ruang jepit”. Proses optimalisasi pengudaraan silang dibantu dengan banyaknya dinding yang sifatnya berpori dengan menggunakan roster.

Area kamar mandi yang terletak di tengah bangunan juga mendapatkan tarikan aliran udara dengan menggunakan turbin ventilator di area atap. Untuk memaksimalkan cadangan air tanah dan mengaplikasikan konsep zero run off, seluruh air hujan yang jatuh di area atap dan taman dimasukkan ke dalam sumur resapan yang berlokasi di depan dan tengah lahan rumah. Teras multifungsi sebagai ruang tamu, tempat makan, dan bermain serta ruang bekerja, juga dimanfaatkan untuk area bercocok tanam bagi penghuni melalui media penanaman vertikal pada dinding di sebelah barat.

 

Riviera House, Lushes Home

Arsitek: StudioRK, Jakarta

Proyek renovasi rumah yang berada di sebuah kompleks perumahan ini mensyaratkan perubahan desain fasad baru harus selaras dengan desain rumah lama yang dibangun developer. Hasil diskusi antara arsitek dan pemilik memutuskan rumah harus dirancang ulang untuk memenuhi kebutuhan pemilik. Tantangan berikutnya, arsitek mendorong menghadirkan penghijauan ke dalam kualitas ruang.

Strategi yang digunakan adalah membuat beberapa konfigurasi massa sederhana yang diambil dari bangunan eksisting di sekitar. Gabungan massa kemudian dipisahkan oleh rongga-rongga. Rongga ini disebar dengan dimensi yang sempit dan rapat. Rongga diselipkan mengapit ruang-ruang utama, sekunder hingga ruang yang lebih privat sebagai akses cahaya dan udara alami yang masif, serta sarana lansekap hijau masuk ke dalam ruang interior. Permainan ini diterapkan secara sekuensial didukung oleh kombinasi material beton mentah yang dingin dan terkesan berat dengan material kaca dan bukaan pintu serta jendela lebar yang ringan.

 

close
GRATIS | Majalah HousingEstate #190 Edisi Juni 2020