HousingEstate, Jakarta - Saat ini pelaku bisnis properti dihadapkan pada pasar yang berubah, salah satunya disebut karena perkembangan teknologi informasi (TI) yang luar biasa. Hal itu diperparah oleh lesunya bisnis properti sejak lima tahun terakhir yang salah satu faktornya karena perubahan lifestyle dan gaya belanja masyarakat akibat perkembangan pesat TI yang antara lain ditandai dengan maraknya belanja online (e-commerce) itu.

Jadi, lesunya bisnis properti tidak serta merta karena penurunan daya beli, namun juga karena berubahnya pola belanja masyarakat. Menurut Hammy Sugiharto, Associates Marketing Director PT Intiland Development Tbk, berbeda dengan krisis ekonomi yang memang menurunkan daya beli, situasi saat ini tidak demikian. Yang terjadi adalah shifting (peralihan), sehingga menjadi tantangan bagi pengembang untuk mengedukasi pasar dan menyediakan produk yang paling dibutuhkan pasar.

“Dulu orang beli properti untuk mencari dan menikmati kenaikan nilainya dan untuk disewakan. Kemudian pasar berubah, lifestyle berubah, salah satunya didorong oleh transportasi online dan e-commerce dengan segala perkembangannya. Orang mengubah pola spending, dari yang suka kenaikan nilai properti menjadi pola spending yang pleasure. Sejak tahun 2014 kita kehilangan konsumen yang punya pemikiran investment sehingga harus mengedukasi pasar lagi,” katanya kepada housingestate.id saat acara pemancangan tiang pertama (ground breaking) South Quarter Residence (SQ Res) di proyek mixed use South Quarter (SQ/8 ha) di koridor bisnis TB Simatupang, Jalan RA Kartini, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pekan lalu (22/8/2019).

Walhasil, menjual properti seperti rumah atau apartemen kini tidak bisa lagi hanya menjual produknya. Perubahan pola konsumsi dan gaya hidup membuat produk properti makin tidak dilirik, karena membutuhkan effort besar untuk memilikinya dan tidak bisa langsung dinikmati berbagai keuntungannya.

“Makanya yang kita tawarkan itu harus komprehensif dan dibutuhkan oleh pasar. Seperti proyek SQ Res ini, kami pasarkan di dalam kompleks perkantoran SQ yang sudah dihuni 7.000-an orang, seluruh fasilitas kawasannya sudah hidup, ada fasilitas park and ride dan halte buswau untuk pengguna MRT dan Transjakarta, dan lain sebagainya. Itu yang kami tawarkan sambil kembali mengedukasi pasar kalau membeli properti beda dengan spending lain,” bebernya.

SQ Res dikembangkan di atas lahan seluas 1,3 ha di dalam kawasan SQ. Di areal seluas 8 ha itu sudah beroperasi tiga tower perkantoran dan berbagai fasilitas komersial. SQ Res akan dibangun sebanyak dua tower 21 lantai mencakup total 672 unit hunian. Tipe unit mulai dari satu kamar tidur (KT) seluas 36-45 m2, 1+1 seluas 60 m2, hingga 2 KT 86-93 m2, seharga Rp1,5 miliar-Rp4,8 miliar/unit.